Unlimited AE and Premiere Pro templates, videos & more! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Photo Editing
Photography

Cara Menilai dan Mengedit Foto Anda

by
Length:LongLanguages:
This post is part of a series called How to Teach Photography.
How to Read a Photograph
This post is part of a series called Photo Editing and Visual Sequencing.
How to Review, Edit, and Sequence Photos in Adobe Photoshop Lightroom
This post is part of a series called Street Photography.
Your Body Doesn't Lie: How to Use the Mind-Body Connection in Street Photography
Street Photography: How to See and Use Daylight Creatively

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Abdul Mutholib (you can also view the original English article)

Meskipun saat ini lebih mudah untuk mengoperasikan kamera dan menghasilkan gambar , namun tidaklah mudah mengenali gambar yang paling menarik di antara  gambar yang  Anda ambil serta memberi kesan kolektif terhadapnya. Faktanya, teknologi  keluaran digital yang beredar luas malah membuatnya lebih sulit: ketika tumpukan file digital menumpuk dalam jumlah yang besar, maka jumlah gambar bermakna yang dibutuhkan untuk membangkitkan tema dan cerita semakin kecil jumlahnya. Ini seperti mencari jarum dalam yumpukan jerami!

Namun, kemampuan menemukan gambar terbaik di antara sekelompok gambar dan untuk memahami apa yang dapat menghubungkannya adalah salah satu keterampilan utama yang membedakan fotografer dari orang-orang yang memotret.

Kebanyakan dari kita memilih gambar yang paling menarik adalah tugas yang sulit dipahami, yang melibatkan kesabaran, keterbukaan pikiran, dan pertimbangan. Bahkan fotografer paling berpengalaman pun harus membongkar hasil jepretannya agar dapat melihat foto-foto mereka dengan jelas, karena tidak ada dua jepretan yang sama persis, dan mereka tahu bahwa semakin baik mereka menyunting gambar mereka sendiri, maka semakin kuat dan bernilai gambar yang dihasilkan.

Fotografer jalanan seperti kami sangat termotivasi oleh ketertarikan pribadi, sehingga untuk menghilangkan subjektivitas kami dalam menentukan foto mana yang paling kuat bisa sangat menantang. Untuk dapat memahami dengan jelas dan mudah  proses editing, saya berbicara dengan fotografer dan pendidik Karen Marshall, seorang pemimpin seminar dalam Fotografi Dokumenter dan Foto Jurnalisme di The International Center of Photography di New York City, yang mengatakan bahwa "belajar bagaimana melihat gambar Anda secara obyektif adalah otot yang bisa Anda kuatkan sama seperti yang lainnya. "

Tetapkan sebuah Niat

Marshall, yang memiliki spesialisasi dalam mengajar personal vision (cara pendang pribadi dalam dunia fotografi) dengan cara mengedit foto selama lebih dari dua puluh tahun, mengatakan bahwa langkah pertama adalah menetapkan niat awal, dan bahwa "menetapkan niat wal akan  membimbing Anda kepada pekerjaan Anda secara umum." Menetapkan sebuah niat Pada awalnya adalah cara untuk mengklarifikasi motivasi awal pada diri Anda sendiri, sebuah batu loncatan yang membuat pencarian Anda dimulai "Apakah niat Anda adalah memotret halaman belakang karena cahayanya yang  bagus, struktur bangunan, atau populasi di kamp pengungsian. Penting bagi Anda saat hendak memotret untuk  memiliki pemahaman tentang apa yang Anda lihat, semacam tujuan yang harus ditetapkan."

Ubah Niatmu, Jika Dibutuhkan

Sama pentingnya dengan menetapkan niat awal, bukan berarti Anda harus tetap bertahan jika tujuan awal anda tidak bekerja sesuai harapan pada saat Anda sedang memotret. Fotografer pemula dan yang cakap sama-sama dapat menguluarkan asumsi yang sangat bagus tentang apa yang mereka foto.  Menurut  Marshall, "mereka bisa saja berakhir dengan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, namun itu adalah hal yang lumrah”.

"Misalnya, Anda mungkin berpikir Anda pergi untuk memotret orang-orang yang telah terlalap api, dan pada akhirnya Anda tidak memiliki akses ke orang-orang tersebut sehingga Anda memilih untuk memotret fragmen dari api. Tapi dalam bahasa fotografi, itu bisa jauh lebih mendalam bagi pemirsa daripada jika Anda benar-benar memotret orang-orang yang terlalap api.  Fotografi adalah sebuah proses, "Marshall mempertahankan, “dan tetap setia padanya, Anda harus percaya bahwa angin akan membimbing Anda”.

Biarkan Foto Anda Menanggapi

Setelah pemotretan selesai dan Anda melihat gambar yang telah Anda buat, "Anda harus menemukan foto 'terbaik' dan biarkan mereka memberi tahu Anda apa yang akhirnya Anda lihat," kata Marshall. "Anda harus membiarkan gagasan awal tentang apa yang Anda lihat menyusut sebagai latar belakang yang membiarkan diri Anda menemukan apa yang Anda anggap sebagai foto terbaik. Begitu Anda menemukan foto-foto ini, mereka akan memberi tahu Anda apa yang telah Anda lakukan. Dan pada tahap ini Anda seperti telah mengembalikan niat awal Anda."

Marshall memberi contoh tentang seseorang yang tertarik dengan arsitektur yang sedang keluar untuk memotret bangunan, namun gambar yang dihasilkan yang melayang ke atas lebih indah dari pada bagaimana cahaya bekerja dengan geometri bangunan," katanya. "Jadi ketika fotografer menyadari itu, itu benar-benar mengubah apa yang sedang dia lakukan. Ini membuat fotografer selangkah lebih dekat untuk menyelesaikan pekerjaanya."

Terus Kembangkan Hubungan dengan Foto Anda

Sama seperti percakapan, komunikasi antara fotografer dan fotonya memungkinkan mereka menjadi editor yang baik bagi pekerjaannya, karena ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan dan memperbaiki hubungan mereka dengan fotografi mereka dari waktu ke waktu: mereka membuat gambar, foto-foto tersebut merespon, para fotografer meresapi dan kemudian membuat lebih banyak foto yang sesuai, maka gambar yang dihasilkan itu merespons lagi, dan seterusnya.

Dan, seperti yang sering terjadi dalam suatu hubungan, pendengar yang baik akan mendapatkan balasan yang setimpal berupa kebaikan pula, karena mereka telah meluangkan waktu untuk memahami perspektif yang ditunjukkan gambar-gambar tersebut, dan bukannya tetap terjebak dalam sudut pandang mereka sendiri.

Karen Marshall meninjau karya siswa di The International Center of Photography. Foto © Lavonne Hall | www.digital-lavonne.com

Singkirkan Pengalaman Anda Sebelumnya

Memiliki sindrom back story, seperti yang disebut Marshall, adalah salah satu rintangan terbesar yang dihadapi fotografer untuk dapat melihat dan mendengarkan foto mereka secara objektif. "Anda harus bisa melangkah mundur dan melepaskan diri dari pengalaman yang pernah Anda buat ketika memotret sebuah foto, sehinga Anda bisa melihatnya dengan jelas. Bila Anda memiliki pengalaman yang sangat intens dalam sebuah pemotretan, memorinya bisa menjadi sangat kuat sehingga ini bisa mengaburkan penilaian Anda tentang apa yang digambarkan oleh foto-foto tersebut."

Misalnya, jika Anda memiliki pengalaman yang sangat positif dalam memotret, Anda mungkin salah mengira gambar yang tidak bersemangat itu menarik. Sebaliknya, Anda mungkin memiliki pengalaman yang sangat negatif dalam memotret sehingga Anda gagal mengenali foto luar biasa yang Anda buat. "Fotografi adalah media visual. Apa yang dibutuhkan fotografer untuk diperhatikan adalah apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh foto tersebut. Jadi Anda harus mencari cara untuk melihat gambar Anda seolah-olah Anda tidak memiliki konteks atau asosiasi dengan gambar itu."

Lihatlah Gambar-Gambar Anda Sesering Mungkin, Setiap Waktu

Untuk mencegah pengalaman terdahulu  Anda dalam memotret mempengaruhi penilaian Anda saat Anda menilai foto Anda, Marshall merekomendasikan untuk melihat gambar Anda dari berbagai sisi pada waktu bersamaan untuk mendapatkan penilaian jujur ​​tentang apa yang ada di sana. Waktu memainkan peranan yang sangat membantu dalam proses mengedit: saat proses mengedit berlangsung, waktu akan memecah harapan kita akan gambar kita dan memudarkan ingatan kita ketika membuatnya, yang membantu dalam mengklarifikasi penglihatan kita.

"Untuk menjadi seorang  editor yang baik adalah dengan mempraktikkannya. Ini sama halnya dengan otot yang bisa Anda kembangkan, sama seperti penari yang memperkuat otot yang membantu mereka dalam koreografi sehingga saat menari mereka tidak hanya secara teknis benar tapi juga ekspresif. Jumlah waktu yang Anda habiskan untuk membaca gambar Anda dan memiliki pengalaman bersama mereka adalah seperti membangun otot yang mendukung pemahaman final Anda tentang mereka."

Bersabarlah dalam Melakukan Penyuntingan (Edit)

Waktu juga menenangkan perasaan ketidakamanan dan kekecewaan yang begitu sering membutakan kita. Anda mungkin merasa senang mengetahui bahwa memiliki pengalaman naik roller coaster yang sangat ekstrem saat menilai hasil jepretan Anda adalah hal yang normal. Seorang fotografer, pemenang penghargaan Gregory Heisler, dalam bukunya Gregory Heisler: 50 Potret (yang sangat saya rekomendasikan), menulis

"Seringkali, tampilan pertama benar-benar mengecewakan. Gambar hampir selalu terlihat seperti sebuah kegagalan. Warnanya tidak tepat. Paparan cahaya tidak aktif. Atau sering kali subjeknya tidak layak. Hasil editan pertama dari keseluruhan pemotretan biasanya mengecewakannya, karena saya telah melihat semua momen dan kesalahan saya. (Pada saat inilah saya diam-diam bersumpah untuk tidak mengambil foto lagi.) Pada putaran kedua, banyak hal mulai berubah; Prose penyuntingan telah ditaklukkan, gambar-gambar yang tidak sesuai harapan telah disingkirkan (namun belum dibuang), dan hasil pemotretan tampak seperti telah terselamatkan. Pada akhir perjalanan ketiga, semuanya terlihat cukup bagus, dan ini hanya soal memilih yang terbaik dari yang terbaik. Dan pada saat saya telah menentukan pilihan, optimisme saya telah pulih dan saya dapat hidup untuk terus memotret."

Tips ini berasal dari  seseorang yang telah memotret lebih dari 70 sampul majalah Time!

Cast a Wide Net, Lalu Zero In

Libatkan banyak hal ketika mencari, Lalu fokuskan Pada satu hal ketika telah menemukannya  Karena pengalaman melihat hasil jepretan bisa sangat membingungkan, terutama pada awalnya, Marshall merekomendasikan untuk melihat semua yang Anda punya awalnya. "Pertama-tama saya melihat semua hasil jepretan saya. Dan kemudian saya melihatnya lagi dan menandai setiap foto yang memikat saya, termasuk foto-foto yang mungkin hanya ide bagus tapi bermasalah. Kemudian saya melihat mereka untuk ketiga kalinya dan mulai mengelompokkan gambar yang telah saya tandai: kelompok C yang mungkin saya hilangkan sepenuhnya karena saya tahu mereka tidak sesuai harapan; Maka saya memiliki kelompok A dan B, yang tidak saya pisahkan sepenuhnya, saya hanya melihat mereka."

"Saya mencoba untuk jatuh cinta dengan gambar saya sampai saya menemukan yang terbaik, tapi saya juga tahu bagaimana mengucapkan selamat tinggal. Fotografi itu seperti pahatan, karena Anda hanya memahat potongan-potongan batu sampai Anda mulai melihat  bentuk yang koheren."

Kategorikan Gambar Anda

Setelah menyingkirkan gambar yang lebih baik dari yang lain, Marshall menasehati untuk menempatkan gambar yang terpilih ke dalam file atau kategori sebagai cara dalam menganalisisnya. Misalnya, niat awal Anda adalah memotret orang-orang yang melintasi tikungan blok kota. Ketika Anda pulang ke rumah, Anda menempatkan foto terbaik Anda ke dalam kelompok: Anda mungkin memiliki kelompok yang menggambarkan detail kaki orang, kelompok wanita lain yang bertopi, yang lainnya terdiri dari potret lingkungan orang yang Anda hentikan dan diajak bicara, dll. Setiap hari Anda Kembalilah dan memotret sudut kota itu, Anda terus menambahkan tumpukan ini, perlahan membangun kotak atau file dari semua gambar bagus, menghilangkan semua kecuali yang terbaik di setiap rangkaian setiap kali Anda menambahkannya.

"Dengan mengkategorikan gambar Anda, Anda bisa mulai mengobrol tentang apa yang sedang Anda lakukan. Terkadang kategorisasi itu membawa Anda ke tujuan Anda tentang proyek sebenarnya. Terkadang membantu Anda memahami berbagai sumber foto yang Anda ambil dalam setiap situasi, serta untuk memperhitungkan apa yang Anda miliki dan mengidentifikasi apa yang hilang. Anda membuat tumpukan atau pemilihan ini hanya untuk berbicara dengan diri sendiri tentang strategi apa yang sebenarnya sedang  Anda gunakan, entah Anda mengetahuinya atau tidak, saat Anda berada di lapangan. Selanjutnya Anda bisa menempatkan yang terbaik dari setiap kategori dalam satu kelompok dan akan ada kaitan yang jelas yang menghubungkan foto foto tersebut."

Fotografer Brittany Beiersdorf mengulas hasil jepretan dari kamera Instant Diana-nya. Foto oleh Amy Touchette

Dapatkan Umpan Balik

"Untuk memahami gambar Anda, kuncinya adalah dengan mendapatkan umpan balik dari orang lain,". "Tapi pastikan Anda memintanya tanpa memberi tahu orang tentang keseluruhan agenda Anda. 'Mengontaminasi' mereka dengan niat atau pengalaman  Anda sebelumnya dapat mengarahkan mereka ke jalan yang membuat mereka tidak menjadi pengamat objektif seperti yang Anda inginkan. Tidak apa-apa membicarakannya nanti, "Marshall berpendapat," tapi tidak pada awalnya. "

"Anda juga harus memperhatikan kepada siapa  Anda tunjukkan foto-foto Anda. Sebagai contoh, beberapa orang hanya menyukai gambar cantik, jadi hanya itulah yang akan mereka sukai. Orang lain mungkin sangat formal dalam cara mereka melihat sesuatu, jadi mereka hanya tertarik pada komposisi yang sangat ketat dan tidak rumit dan mereka tidak peduli dengan hal lain. Jadi Anda harus mengambil sedikit dari semua orang dan mengerti dari mana umpan baliknya berasal."

Namun, jika sebagian besar orang menyukai gambaran tertentu yang telah Anda pandangi atau bahkan tidak suka, "Anda harus mendengarkannya dan bertanya pada diri sendiri mengapa Anda bersikap ragu-ragu. Anda setidaknya harus menyimpan gambar itu dalam suntingan Anda sampai Anda menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut, "katanya.

Kenali Tujuan Anda

"Ada banyak alasan mengapa kami mengedit foto kami: kami mengedit untuk memahami pekerjaan kami, kami mengedit untuk klien, kami mengedit untuk keluarga kami," kata Marshall. "Jadi saat Anda memilih gambar terbaik Anda, Anda harus tahu apa yang sedang Anda edit."

"Misalnya, jika Anda membuat foto di pesta pernikahan teman Anda, Anda akan mencari foto terbaik yang menggambarkan pernikahan itu: momen klasik, sorotan acara, saat-saat paling emosional. Tapi Anda mungkin juga menemukan beberapa gambar yang unik dan menarik perhatian Anda, yang agak aneh atau menantang pada level tertentu; Mungkin Anda menyimpan gambar itu untuk diedit sendiri dan tidak memasukkannya pada kumpulan gambar milik mereka”. Meskipun Anda ingin tetap tangkas dan berpikiran terbuka saat menilai gambar Anda, menyadari tujuan Anda membantu Anda membuat pilihan yang lebih fokus dan tepat.

Jadilah Diri Sendiri

"Hubungan yang Anda miliki dengan foto Anda bisa sangat mirip dengan hubungan Anda dengan keluarga atau teman Anda," kata Marshall. "Ini adalah sifat manusia untuk menjadi ragu dalam memutuskan apakah mau menerima bagaimana hubungan berjalan atau mengakhirinya. Anda bisa duduk selama bertahun-tahun agar pasangan hidup Anda menjadi orang yang Anda harapkan dan menjadi frustrasi karena mereka tidak menjadi seperti  orang yang Anda inginkan dan mereka tidak memberi apa yang Anda inginkan. Tapi jika Anda benar-benar menerima orang itu apa adanya-jika Anda berhenti berpikir 'mereka bukanlah orang yang bangun pada pagi haro dan saya tidak akan pernah bisa menikmati secangkir kopi dengan mereka di pagi hari'-maka Anda bisa Mulai menikmatinya lebih banyak di sore dan malam hari daripada membuang-buang waktu selama ini karena marah pada mereka di pagi hari."

"hal ini sama saja dengan foto-foto Anda. Saya mungkin ingin membuat jenis foto tertentu, tapi jika saya tidak melakukannya-jika ini bukan sifat saya untuk melakukan itu-jika saya merayakan apa yang sebenarnya yang saya lakukan secara alami dari pada mencoba menjadi seseorang yang bukan diri saya, maka saya akan berakhir dengan pandangan pribadi saya. Terkadang orang sangat khawatir menemukan visi pribadinya yang mereka dapatkan dengan cara mereka sendiri. Semuanya saling terkait satu sama lain dan itulah yang membuatnya begitu sulit. Anda harus menerima diri sendiri dan membiarkan foto-foto memandu Anda."

Edit Setelah Memotret, Bukan Saat Memotret

Saat bekerja dengan teknologi digital, Marshall juga merekomendasikan untuk melihat foto setelah pemotretan selesai, tidak di tengah-tengahnya. "Terkadang sangat bagus untuk melihat satu atau dua hasil jepretan untuk melihat exposure, tapi saya tidak menyarankan Anda untuk menghapus gambar, karena begitu Anda mengunduh gambar Anda, mungkin Anda memiliki pendapat yang sama sekali berbeda. Pertama-tama, melihat  foto-foto tersebut  secara teknis di layar komputer yang lebih besar dari pada di LCD kecil merupakan dua pengalaman yang berbeda, jadi apa yang mungkin Anda pikirkan sebagai kegagalan pada awalnya bisa jadi itu adalah foto terbaik Anda. "Tetap fokus saat memotret, dan lakukan analisis gambar Anda setelahnya, saat Anda bisa lebih banyak mencurahkan diri Anda pada usaha membaca gambar Anda.

Kembangkan Literasi Visual

Terakhir namun tidak kalah penting, cara belajar kuno yang baik sangat diperlukan saat mengembangkan kemampuan mengedit Anda. "Pergi ke kelas, bertemu dengan orang-orang, melihat-lihat buku dan pameran, dan sebagainya adalah semua cara untuk melatih otot ini. Menganalisis sebuah retrospektif karya master fotografer, misalnya, dapat membuka mata Anda terhadap berbagai bentuk pilihan yang bisa diambil. Anda mungkin berkata, 'Wow, fotografer ini membuat gambar kontras tinggi di pantai selama bertahun-tahun dan ketika disatukan, oto foto tersebuti menyampaikan makna di luar itu.' "mendapat pengalaman semacam ini secara terus-menerus  menghadapkan Anda pada variasi Nuansa yang bisa membentuk kerja yang dinamis dan koheren, dan tetap segar dan terbuka saat Anda menilai foto Anda sendiri.

Kesimpulan

"Mengedit adalah keterampilan yang harus Anda dapatkan. Anda tidak bisa menghindarinya, karena ini adalah bagian dari proses meilai suatu gambar, "kata Marshall. Pengeditan yang bagus mengartikulasikan apa yang spesial dari foto-foto tersebut-sesuatu yang tidak mungkin diketahui sejak awal. Akibatnya, memotret mengharuskan Anda untuk mengubah apa yang Anda yakini: ini dimulai dengan niat Anda, namun kemudian menghilangkan harapan Anda, dan karena itulah mengedit gambar Anda sebagian besar merupakan pelajaran untuk melepaskannya.

Karen Marshall adalah pemimpin seminar dalam Program Dokumenter Fotografi dan Photo jurnalisme di The International Center of Photography, di mana dia berada di fakultas tersebut selama 20 tahun terakhir. Dia adalah seorang Associate Professor di New York University dan mengajar worshop di China, Eropa, Amerika Latin, dan secara online. Studi seminalnya, Between Girls: A Passage To Womanhood, mendokumentasikan timbulnya sekelompok usia remaja kelas menengah perkotaan dari sekolah menengah sampai masa dewasa setelah 30 tahun kemudian. Proyek multimedia tersebut dipamerkan pada tanggal 13 Oktober - 17 November 2015 di Hampshire College di Amherst, Massachusetts.


Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.