Students Save 30%! Learn & create with unlimited courses & creative assets Students Save 30%! Save Now
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Color Theory
Photography

Melihat Warna: Bagaimana Indera Mata Kita dan Kamera Perekam

by
Length:LongLanguages:
This post is part of a series called Everything Colour.
Bold Colours: How to Apply Colour Theory in Your Photo Compositions

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Wasmia Mia (you can also view the original English article)

Anda sangat bersenang-senang pada pesta keluarga di hari libur. Anda memotret foto yang luar biasa dari kakek anda- anda kemudian men-cetak dan membingkai foto tersebut.  Anda membuat beberapa perubahan ketika anda memproses foto tersebut, lalu mencetaknya pada printer di rumah anda. Hasilnya malah terlalu hitam; foto terlihat penuh lumpur. Daripada melakukan banyak perubahan, anda mengundah gambar pada jasa percetakan foto di sekitar rumah anda, namun ketika anda memperhatikan dengan seksama hasil print tersebut, kulit kakek anda terlihat tidak natural terlihat sangat kuning dan sweater ungu nenek anda terlihat sangat biru.  Apa yang sebenarnya terjadi? Anda menyetel keseimbangan warna putih sebelum mengambil gambar dan gambarnya terlihat baik-baik saja di komputer. Akhirnya, gambar tersebut diunggah di website tanpa banyak perubahan pada pewarnaan dan testur-nya.  Akan tetapi setiap versi dari gambar tersebut terlihat sedikit berbeda dan tidak ada yang anda lihat dintara gambar-gambat tersebut seperti yang anda pikirkan pada saat itu.

Selamat datang dalam dunia pengaturan warna dalam fotografi dan video. Ini semua sudah sangat terlihat sempurna baik dalam teknik dan matematika. Pengaturan warna membantu dalam mendapatkan warna putih yang sebenarnya.  Sebuah ColorChecker Target dapat membantu anda dalam mendapatkan akurasi diantara pengambilan gambar dan prosesnya. Profil ICC (International Color Consortium) menetapkan aturan baku untuk pengaturan warna.  Dan masih saja, hasil anda tidak seperti yang anda ingat atau harapkan. Bahkan foto hitam putih anda sering kali terlihat ”mati”.

An apple on a white plate with colour cast

Hasil yang memuaskan mungkin saja terjadi. Hal tersebut mensyaratkan sedikit kerja yang lebih dan uji coba, tetapi tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan puas pada saat pertama kali mencetak foto dengan sempurna, atau mendapatkan warna yang sesuai dengan ungkapan perasaaan pada saat pengambilan foto.

Kami meluncurkan sebuah seri tentang mengatur warna, yang akan menolong anda memuaskan hasrat anda mendapatkan warna yang sesuai.  Pada artikel ini, saya meilihat apa warna itu dan bagaimana kita melihatnya. Apa yang membuat warna ada ? dan kenapa warna terlihat berbeda pada orang-orang dan tempat yang juga berbeda ?

Apa yang Anda Lihat Belum Tentu itu yang Anda Dapatkan

Ketika saya masih anak-anak, saya sering memainkan sebuah permainan bersama kawan-kawan; kami pernah mencoba menentukan jika kami semua melihat warna tertentu dengan cara yang sama. Apakah mereka melihat warna merah seperti saya melihatnya, atau mereka sebenarnya melihat merah kita saya melihat warna ungu tapi kami memanggil yang kami persepsikan tersebut sebagai “merah” karena itu adalah dunia yang kami pikirkan untuk mengasosiasikan apa yang kami lihat?  Mungkin saja ini hanyalah permainan anak kecil, namun pertanyaan tersebut tidak jauh dari realitas.

Apa yang Kita Lihat

Penglihatan manusia sangatlah rumit: bukan saja kita memiliki beraneka macam kemampuan dalam melihat warna, kita-pun juga memproses apa yang kita lihat tersebut di otak, yang menambahkan interpretasi pada warna dan cahaya.

“Kita tidak melihat dunia seperti apa adanya, kita melihat dunia seperti yang kita inginkan” – Anais Niin

Mata kita menerima warna dan cahaya dengan dua macam cell, kita menyebutnya dengan “rods” dan “cones”. Salah satu dari sel tersebut-Cones-  sensitif pada warna, tetapi memerlukan pencahayaan yang baik. Sel ini memiliki ketajaman pandangan yang sangat tinggi. Sel rods-lainnya sangat sensitif terhadap pencahayaan (terang dan gelap) tapi kurang sensitif terhadap warna. Hasilnya adalah bahwa warna, kedalaman, dan detail hilang saat cahaya menjadi lebih gelap. Apa yang kita lihat dalam cahaya redup, kami menganggap sebagai datar dan desaturated. Sebaliknya, kita melihat rincian yang luar biasa dalam cahaya terang.

Dua jenis sel yang tidak ada dalam bagian yang sama juga mereka didistribusikan secara merata di mata kita. Sel-sel yang melihat warna dan memerlukan lebih sedikit cahaya terang dan terkonsentrasi di pusat penglihatan kita. Cel ini yang dapat melihat keredupan cahaya terdapat lebih banyak dan terkosentrasi utamanya sekitar tepian penglihatan kita. Jika anda adalah salah seorang yang menyukai kamping dan melancong, anda pasti tahu cara terbaik berjalan ditengah gelap adalah dengan memfokuskan pelihatan pada samping anda dari pada apa yang ada di depan anda. Jika menggunakan cahaya flash, daripada menyinari tepat di depan mata, dalam kondisi gelap akan lebih baik jika saja anda mengayungkan sinar dari samping ke samping. Hal ini disebabkan sel yang terlihat secara detail pada sinar yang redup dan gelap lebih aktif pada penglihatan peripheral kita.

Human eye anatomy
Sumber Ilustrasi: iStock. Diedit oleh Dawn Oosterhoff

Meskipun pencahayaan menjadi gelap atau terang, penurunan apa yang kita lihat adalah sangat bertahap. Kita dapat melihat secara detail di cahaya yang terang, dan akan melihat warna, jika saja detailnya tidak terlalu bagus, pada pencahayaan yang sangat terang.  Kemampuan kita untuk membedakan warna dan detail menurun secara bertahap saat cahaya meredup, tetapi kita tetap dapat mendeteksi gerak dan melihat bentuk pada kedalaman bayangan.

Ketika kita melihat, cel pada mata kita memperkirakan warna, penchayaan, dan detail, akan tetapi otak kita memberitahu pada kita apa yang terlihat. Otak kita akan menginterpretasikan informasi tersebut dan memenuhi ruang yang kosong.  Otak kita-pun memanggil kenangan dan ingatan untuk menginterpretasikan apa yang kita lihat. Kita tidak menyadari bagaimana garis-garis menyatu ketika menjauh karena otak kita membenarkan distorsi.  Sama dengan sebelumnya, kita tidak menyadari severapa banyak warna kuning, merah muda atau hijau mungkin saja berada di ruangan bercahaya karena otak kita tidak dapat mempertimbangkan seperti pada saat melihat daging merah yang kadangkala menjadi abu-abu.

Apa yang Didapatkan oleh Kamera

Apa yang kamera “lihat” dapat dengan mudah dijelaskan: sensor yang dimiliki oleh kamera untuk merekam spesifik warna dan cahaya, dan penengkapan foto merespon secara beragam untuk bidang pandang. Penangkapan foto tidak dapat menangkap warna dalam gelap. Juga tidak dapat merekam banyak warna pada tegah bidang pandang. Setiap penangkapan foto, terlepas dari lokasi sensor, akan merekam warna dan cahaya seperti hal-hal tersebut tertangkap dengan sensor cahaya. Lebih jauh lagi, kemampuan sensor dalam merekam warna dan detail menggunakan sensor pencahayaan yang kamera miliki. Sorotan clip menjadi putih dan bayangan menjadi hitam.

Kamera mengartikan apa yang sensor foto tangkap, tetapi interpretasinya terbatas dan didasarkan pada algoritma yang tetap. Interpretasi melibatkan perbandingan dan ekstrapolasi informasi yang ada untuk mengisi celah-celah kecil dengan logika. Interpretasi yang kamera miliki masih memiliki kemungkinan berubah-ubah dan juga tidak fleksibel. Garis konvergen masih menyatu dalam penangkapannya, dan jumlah warna kuning dalam cahaya pijar akan menunjukkan secara proporsional sama persis dengan kuning yang terdapat pada pisang.

Spektrometer - perangkat yang digunakan untuk mewarnai perangkat kalibrasi layar seperti monitor - bekerja dengan cara yang sama seperti sensor kamera. Perangkat tersebut mengidentifikasi warna secara seragam dan secara linier. Itu berarti pengaturan warna digital akan konsisten di semua perangkat yang dikalibrasi, namun kalibrasi tidak akan beradaptasi seperti bagaimana kita melihat warna dan cahaya.

Penangkapan Asli Velawan Penakapan Digital

Ada layer lain yang harus menjadi pertimbangan ketika ingin melihat perbedaan bagaimana kita dan peralatan digital melihat warna dan cahaya. Ketika kita melihat di layar, mata kita akan berpindah-bahkan hanya sedikit- dan menangkap banyak informasi di luar bidang pandang. Mungkin saja kita tidak menyadari warna, cahaya, dan bentuk di penglihatan kita, tetapi otak kita mendapat informasi tersebut tanpa memberikan perhatian yang lebih, dan menggunakan hal tersebut untuk menginterpretasi apa yang kita lihat.

Kamera mungkin saja memilih cahaya dan warna berasal dari luar bidang pandang kita, tetapi hanya jika hal-hal tersebut melewati bidang pandang kamera.

Untuk menambahkan layer pada jenis kerumitan-nya, pertimbangkanlah apa yang kita lihat kitika kita mengambil gambar termasuk informasi mengenai penggambaran yang kamera mungkin saja tidak menangkapanya. Kita kemudian mereproduksi foto dan melihat foto di tengah bidang pandang lainnya. Informasi visual yang sebelumnya adalah hamparan luas ditangkap dengan cara yang berbeda dari pada bagaimana kita melihat sesuatu, lalu dikompres dan diperlihatkan kembali kepada kita di tengah bidang pandang lain yang menyumbang berbagai informasi ke otak kita. Ini adalah cermin fotografis yang menyenangkan di sebuah karnaval.

Panoramic view of Parliament Hill Ottawa Canada
Kamera kita "melihat" isi proporsi tentang semua yang kita lihat.
Man looking at photographs on a gallery wall
Kita kemudian menambahkan layer of compexity lainnya dari apa yang sebenarnya kita lihat ketika kita memandang pada foto yang baru. Base image source: iStock. Image insertions and editing by Dawn Oosterhoff.

Teori Warna

Ketika berkenaan tentang memahami warna dan bagaimana peranan warna terhadap fotografi, ini-pun menjadi penting untuk melihat bagaimana mengkombinasikan warna untuk mendapatkan jenis warna lainnya. Anda mungkin saja telah belajar pada satu waktu- seperti yang terjadi pada kelas seni- dimana merah, kuning dan biru adalah warna dasar, dan mencampurkan warna-warna tersebut akan menghasilakan warna lainnya seperti hijau, jingga, dan ungu. Ide sebenarnya telah jauh ada semenjak abad ke-17 dan masih tetap menjadi pendekatan yang utama pada seni klasik. Akan tetapi, sementara terori tersebut mungkin bekerja pada saat mencampurkan warna, itu bukan bagaimana cara kita melihat warna dan itu bukan baimana warna dicetak di fotografi atau print.

Teori Trichromatic

Ada dua teroi yang menjelaskan bagaimana kita melihat warna. Berdasarkan Teori Trichromatic, kita memiliki penangkap yang berbeda untuk warna yang juha berbeda yang terletak di sel cone dari mata kita (sel yang melihat warna). Penangkap yang berbeda memilih tiga panjang gelombang cahaya yang berbeda: panjang, sedang, dan pendek, yang kita lihat sebagaim merah, biru, dan hijau. Ketiga warna tersebut mebantu kita untuk melihat warna lainnya.

Ini bukan saja mengejutkan, lalu, seluruh warna tersebut di perangkat output pencahayaan  (kamera, monitor komputer, projektor, dan lain-lain) tersusun dari warna kombinasi cahaya merah, hijau dan biru. Karena RGB adalah adalah warna dari cahaya, jika anda mencampur tiga warna sekaligus, anda akan mendapatkan putih. Memisahkan ketiga warna tersbeut maka anda akan mendapatkan hitam. Ini merupakan dasar model warna merah, hijau dan biru.

Model mencetak warna-CMY (Cyan, Magenta dan Yellow) - adalah merupakan keterbalikan dari Model RGB (Red, Green dan Blue), sehingga, ini juga berdasarkan teori trichromatic. CMY adalah warna yang akan tercetak. Tinta akan menyerap panjang gelombang cahaya tertentu, dan memantulkan beberapa diantaranya, untuk membuat warna. Jika saja anda memisahkan setiap merah, hijau dan biru dari putih, anda akan mendapatkan warna yang berlawanan: Cyan, Mangenta dan Yellow or CMY. Jika anda menambahkan tiga warna (CMY) bersama, anda akan mendapatkan hitam. (K-hitam-ditambahkan pada percetakan warna untuk menjelaskan warna hitam yang sesungguhnya, dan untuk mengirit pengeluaran dalam menggunakan ketiga warna dalam mendapatkan warna hitam.)

A collage of colour created with red green and blue
Kolase warna dibuat dengan sinar cahaya dengan menggunakan dua layar merah, hijau dan biru glatin.

Opponent Process Theory

Opponent Process Theory menjelaskan sel cone dimata kita adalah sangat natural terhubung dengan tiga pasang warna yang saling berlawanan. Biru dan kuning, merah dan hijau, juga hitam dan putih.  Ketika salah satu dari pasangan aktif, pengaktifan sekaligus menekan yang lainnya. Contohnya, kita merah aktif, kita akan melihat sedikit hijau, dan kita warana hijau yang aktif maka kita akan melihat sedikit warna merah.

Jika anda memendang pada bidang merah selama semenit, lalu menggantinya dengan memandang bisang putih, anda kan melihat bayangan hijau di tengah bidang putih tersebut. Beginilah cara kerja opponent process di mata kita. Alasan kenapa kita melihat hijau setelah melihat warna merah dikarenakan dengan memandang kita akan mengalami kelelahan respon neural pada warna merah. Ini membuat respon neutral untuk hijau meningkat.

Anda telah melihat bagaimana teori warna  bekerja ketika menyeimbangkan warna pada gambar. Ketika anda mengurangi merah, gambar anda akan terlihat lebih hijau, dan ketika anda menambah kuning, gambar anda akan akan berkurang warna biru-nya. Hitam dan putih yang saling berlawanan mempengaruhi pencahayaan pada gambar.

Blue hose on a yellow tank
Red wall with green shutters

Trichromatic dan Opponent Process Menyeimbangkan Pandangan Terhadap Gambar

Pada mulanya, peneliti berpikir pandangan kita terhadap gambar dapat dijelaskan hanya dengan satu atau dua teori. Akan tetapi, peneliti tidak dapat menyediakan bukti yang jelas, hari ini dipercayai secara umum kita menggunakan dua metode dalam melihat warna. Teori Trichromatik menjelaskan bagaimana mata kita menerima warna dan the opponent process theory menjelaskan hubungan secara natural yang menolong otak kita memproses warna.

Hal lainnya, kita melihat teori ini dengan menyatukannya pada pekerjaan fotografi. Gambar yang terbuat dari merah, hijau, dan biru. Lawan dari merah, dan hijau adalah Cyan, magenta, dan kuning. Warna di seimbangkan dari merah dan hijau, dan kuning dan biru. Menyesuaikan hitam (bayangan) dan puting (cahaya) memberikan gambar sebuah kepadatan.

Adobe Photoshop panels showing colour theories at work

Lab Warna

Ketika menggunakannya pada fotografi, kedua trichromatic (RGB) dan opponent process (R/G, Y/B, B/W)  adalah datar. Apa yang saya maksud adalah penyesuaian melalui proses-proses tersebut mempengaruhi hanya satu variabel. Lebih merah dan kurang biru akan mengarhakan warna ke jingga. Mengurasi hijau dan akanda akan mendapatkan banyangan ungu. Mengganti hitam dan putih akan menjadikan warna lebih hitam atau lebih bercahaya.

Lab warna, pada sisi lain, mencoba untuk menduplikasi bagaimana cara manusia melihat dengan cara mengkombinasi kedua proses di model tiga dimensi. Seperti yang dimiliki oleh manusia.Setiap warna adalah hasil dari penyatuan dan penyeimbangan merah dan hijau (“a”), biru dan kuning (“b”) dan hitam dan putih (pencahayaan, atau “L”). Hasil dari model warna yang menyediakan kombinasi warna 

Three-dimensional illustration of Lab colour
Sumber Ilustrasi: International Color Consortium (ICC) [Public Domain]

Karena warna Lab sangat luas dan sangat tepat, setiap warna pada setiap model produksi warna lain memiliki nilai yang sesuai di Lab. Padahal, Lab digunakan sebagai model dasar untuk menghitung setiap warna pada setiap model. Oleh karena itu, ini juga merupakan sistem yang dapat diandalkan untuk menerjemahkan warna dari satu model ke model lainnya.

Beberapa fotografer dan seniman digital lebih suka bekerja di Lab, namun bagi banyak orang, sistemnya terlalu besar dan terlalu rumit untuk digunakan secara umum. Sebaliknya, RGB dan CMYK, adalah model sederhana dengan konsep yang juga sederhana yang memberikan warna lebih dari cukup.

Gelombang, Garis Edar, dan Objek

Tidak satu-pun yang dapat memberikan pemahaman yang lebih jika kita ingin lebih mengetahu mengenai warna dan bagaimana cara kerjanya dala fotografi: warna adalah komponen dari cahaya, yang berpindah menggunakan gelombang. Jika anda menyinari Prisma dengan cahaya, prisma tersebut akan membelokkan (pantulan) cahaya dan pelangi akan muncul pada sisi lainnya.

Light shining through a prism
Fotografi dari by Kelvinsong [CCO], via Wikimedia Commons

Warna setiap kali berpindah selalu menggunakan panjang gelombangnya. Ketika warna berpindah secara bersamaan, hasilnya akan menjadi putih. Akan tetapi ketika cahaya diberikan tekanan untuk merubah arah, setiap warna akan melengkung secara berbeda, tergantung dari panjang gelombangnya. Ungu yang memiliki penjang gelombang paling pendek, akan sangat melengkung. Merah yang memiliki panjang gelombang yang paling panjang, akan melengkung paling terakhir. Sehingga ketika warna putih dari cahaya terbentur pada sebuah permukaan, cahaya akan hancur menjadi komponen-komponen warna.

Beberapa bahan-bahan seperti kaca, mentrasmisikan cahaya: bahan lainnya, seperti batu, menyerap cahaya; akan tetapi bahan lainnya seperti pernis kering, memantulkan cahaya. Dan seperti yang telah kita lamati dengan menggunakan prisma, kecuali jika benda itu rata, cahaya akan memecah menjadi warna komponennya ketika berinteraksi dengan objek. Selanjutnya, meski benar-benar datar namun agak kabur, bahan akan menyerap beberapa panjang gelombang cahaya dan mencerminkan yang lain. Dengan demikian, sebuah batu datar menyerap cahaya tetapi juga memantulkan kembali beberapa panjang gelombang cahaya, memberi warna abu-abu pada batu itu. sebagai contoh.

Bagaimana cahaya ditransmisikan, diserap, dan dipantulan mempengaruhi tidak hanya warna yang kita lihat, tapi juga mempengaruhi kualitas warna yang kita lihat. Benda yang menyerap banyak cahaya - batu, misalnya - akan memantulkan kembali warna datar yang desaturasi.  Sebaliknya, bahan yang mencerminkan banyak pernis kering kering, misalnya-akan memberi kita rasa warna yang terang dan dalam.

Varnished boat reflecting colour and a wooden stump absorbing colour

Tambahkan Semua Itu

Sekarang, Anda mungkin berpikir bahwa ini semua sangat menarik, tapi  dimana letak perbedaanya saat saya mengambil atau memproses foto?

Fotografi digital telah memberi kita kesempatan untuk memanipulasi warna dengan cara yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Seniman tradisional dididik mengenai teori warna dan menggunakan warna untuk menciptakan kontras, menyampaikan suasana hati, dan mengarahkan perhatian pemirsa. Fotografer sekarang memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kreativitas.

Fotografi digital juga telah memperkenalkan variasi teknis yang mempengaruhi dan mengubah apa yang kita lihat dan yang di produksi. Dengan memahami teori warna dan bagaimana warna bekerja, kita dapat memperbaiki pendekatan teknis untuk akurasi warna.

Pemahaman yang lebih dalam tentang manajemen warna dan warna itu sendiri menghasilkan fotografi yang lebih baik. Gambar akan lebih baik menangkap apa yang Anda rasakan dan rasakan saat mengambil foto, dan kemampuan Anda untuk menggunakan warna demi keuntungan Anda akan memperbaiki dampak emosional dan ketertarikan pada foto itu.

Fotografi adalah seni cahaya, dan cahaya adalah gabungan warna. Dalam seri ini kita akan mendalami warna secara dalam.  Anda akan belajar bagaimana menerapkan prinsip dan teori yang telah kita pelajari di atas untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih bisa mengendalikan warna dalam fotografi Anda.

Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.