Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Digital Camera

Ulasan Sigma DP2s: Kembali ke Dasar, Namun Bukankah Itu Terlalu Jauh?

by
Length:LongLanguages:

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Yosef Andreas (you can also view the original English article)

Sigma DP2s merupakan versi terbaru kamera kompak Sigma sebagai lanjutan dari seri DP, yang pertama kali mencapai pasaran di musim semi tahun 2008 dengan peluncuran DP1. Hari ini kita akan mempertanyakan apakah jenis komputer sensor besar Sigma bisa beradu dengan kamera hibrid terbaru, dan apakah pendekatan "kembali ke dasar" memberikan kamu cukup kekuatan di dalam era kamera penuh fitur saat ini.


Latar Belakang

Sigma DP2s Review

DP1 merupakan sebuah pembukaan. Ini merupakan sebuah kamera yang memiliki sensor besar seukuran SLR di dalam sebuah badan kamera kompak.  Tidak hanya itu, itu ditujukan bagi para fotografer serius yang menginginkan kendali manual tanpa fitur tambahan. Itu bahkan tidak memiliki zoom, hanya lensa fixed dengan panjang fokal setara dengan 28mm.

Klaim lainnya dari DP1 yang terkenal adalah sensor Foveon. Ini memiliki tiga lapisan, yang menangkap informasi warna merah, hijau dan biru untuk tiap piksel di dalam gambar.  Untuk kontrasnya. sensor konvensional lapis tunggal memiliki photosite mosaik merah, biru dan hijau dan informasi warna lengkap untuk tiap piksel untuk diinterpolasi dari photosite sekitar.

Intinya adalah Sigma menghasilkan gambar beresolusi jauh lebih rendah dari yang biasa kita lakukan, hanya sebesar 4.7 megapixel.

Namun bagaimana pun juga, karena tidak perlu dilakukan interpolasi atau, nyatanya filter pelolosan rendah (blur) diperlukan pada sensor lainnya untuk menangani efek moire, detail jelas pada sensor Foveon secara dramatis lebih bersih dan tajam.

Hasil gambar Sigma mungkin kecil, namun bisa ditingkatkan lebih dari gambar digital biasa, dan pada akhirnya, kekuatan penyelesaian langsung dari sensor Foveon dan sensor APS-C biasa yang berukuran 10-12 megapixel tidaklah berbeda.

Sigma DP2s Review

Sejak peluncuran DP1, seri DP telah sedikit berubah. Model DP2 hadir dengan lensa 24.2mm (setara 41mm) alih-alih lensa setara 28mm pada DP1, namun itu selalu dimaksudkan sebagai alternatif alih-alih sebagai pengganti.

Adanya akhiran 's' pada model terbaru tidak menandakan perubahan besar. Algoritma autofokus telah ditingkatkan, tombol-tombol pada bagian belakang telah melalui desain ulang dan ada mode baru Power Save yang bisa memperpanjang usia batere.


Spesifikasi Utama

DP2s merupakan kamera yang apa adanya dimana tidak banyak yang bisa dikatakan mengenai spesifikasinya yang belum dibahas.

Sigma menjelaskan sensor Foveon memiliki 14.1 juta piksel efektif, dan mereka mendapatkan maksudnya. Jika pembuat lainnya bisa mengatakan sensor tunggal mereka memiliki 14 megapixel, ketika masing-masing hanya merekam cahaya satu warna, mengapa mereka tidak bisa?  Gambar yang dihasilkan Sigma hanya 4.7 megapixel, dan itulah angka yang akan dianggap kebanyakan pengguna sebagai resolusi 'sebenarnya'.

Sensor mengukur pada 20.7 x 13.8mm, sehingga nyatanya itu sedikit lebih kecil dari sensor APS-C. Itu bukanlah sebuah perbedaan besar, sehingga masuk akal untuk menjelaskannya secara luas sebagai hal yang sama.

DP2s bisa memotret baik dalam format file JPEG dan RAW. Jika kamu ingin menggunakan ISO maksimum 3200, kamu harus memotret dalam file RAW - file JPEG berhenti pada ISO 800.  Kamu bisa memperoses file RAW di dalam software Sigma Photo Pro 4 yang hadir dengan kamera, atau di dalam program pihak ketiga Adobe Camera RAW (tidak ada banyak pilihan yang mendukung format RAW dari Sigma).

Sigma DP2s Review

Mode Exposure terbatas pada program AE, aperture-priority, shutter-priority dan manual.  Tidak ada mode scene di sini, dan bagus untuk melihat Sigma memilih pasar targetnya dengan jelas. Kesederhanaan fungsi ini adalah salah satu karakteristik DP2 yang paling menarik.

Ada mode movie, namun resolusinya hanya 320 x 240 pixel, sehingga jujur saja, cukup sulit untuk melihat mengapa Sigma repot-repot mengenai itu. Namun dulu DP1 diperkenalkan di tahun 2006, ketika film resolusi rendah merupakan hal yang normal dan bahkan film 640 x 480 sangat langka.

Ini adalah petunjuk kecepatan proses pengembangan Sigma. 'Glacial' mungkin kata terbaik untuk menjelaskan itu.

Autofocus ditangani dengan sistem AF deteksi kontras 9-titik, namun kamu juga bisa melakukan fokus manual. Lensa itu sendiri tidak memiliki skala jarak, namun ada tombol jarak pada bagian plat atas yang menggantung pada belakang kamera, dan ketika DP2s berada dalam mode fokus manual, kamu menggunakan tombol ini untuk menyesuaikan jarak.

Ada sebuah pop-up flash dengan panduan nomor 6. Itu memiliki tindakan solid yang nyaman - kamu hanya harus memastikan untuk memindahkan jemarimu untuk mengeluarkannya.  Itu tidak terlalu bertenaga, namun kamu bisa juga memasang sebuah flash eksternal pada shoe kamera jika kamu memerlukan lebih banyak cahaya.

Sigma mengatakan sebuah usia batere sama dengan 250 kali pemotretan, yang sedikit di bawah kamera lainnya untuk kelas ini, yang kemungkinan menjadi sebab mengapa diperkenalkan mode Power Save.  Kamu mendapatkan batere melalui tutup yang muncul pada dasar kamera, dan inilah dimana kamu memasukkan kartu memori. DP2s menggunakan standar kartu SD/SDHC.


Penanganan, Pengendalian, dan Menu

Dibandingkan kebanyakan kamera digital kompak dan hibrid, DP2s memiliki desain bujur sangkar yang sangat polos, namun dalam kebanyakan hal ini merupakan poin penjualan terbesar bagi mereka yang merindukan kamera manual jadul. Lagipula, setelah kamu mengerti dasar-dasar fotografi, apa yang lebih kamu inginkan adalah kendali manual yang efisien, dan itulah tepatnya apa yang disediakan Sigma.

Sigma DP2s Review

Salah satu perbedaan antara DP2s dan DP2 yang lama adalah desain kendali di bagian belakang, dimana tombol utama (trash, zoom, playback) dipilih berwarna merah. Tata letak dan pelabelan kamera tampak cukup jelas, namun desainer Sigma pasti telah berfikir bahwa itu layak ditingkatkan.

Sayangnya LCD tidak cukup besar. Sebuah display 2.5-inch cukup rendah untuk standar saat ini, dan resolusi 230,000-pixel tidaklah spesial.

Kendali eksternal DP2 cukup jelas, namun sistem navigasi menunya sedikit aneh. Cukup logis ketika kamu terbiasa, namun itu tidak bertingkah seperti yang lainnya.

Sebagai awalan, menu yang melakukan highlighting tidak melakukan scroll ke atas dan bawah terhadap daftar. Alih-alih, itu tetap berada di atas menu, dan menu itu sendiri yang melakukan scroll ke atas dan bawah.  Ketika kamu memilih sebuah item, layar berubah untuk menunjukkan pengaturan, seperti yang kamu harapkan, namun ketika kamu memilih yang kamu inginkan, itu tidak kembali ke menu namun tetap berada pada layar tersebut... dan itu tetap di sana ketika kamu membuka menu berikutnya.

Nyatanya, untuk kembali ke menu, kamu harus menekan tombol mode pada bagian belakang kamera. Ini harusnya dilabeli sebagai 'back' atau sesuatu yang serupa, karena hingga kamu mengerti ini, sistem menu DP2 hampir tidak dapat diselami.

Untungnya, kamu tidak memerlukan menu sesring itu karena DP2s memiliki menu Quick Set untuk mengakses pengaturan yang umum. Ketika kamu menekannya sekali, Sigma menampilkan layar Qs1 dimana kamu bisa menekan tombol arah 'atas' untuk mengubah ISO, tekan 'kanan' untuk mengubah pola metering, menekan 'bawah' untuk mengubah white balance dan 'kiri' untuk mengubah mode flash.  Untuk melakukan siklus melalui pilihan yang tersedia, kamu hanya perlu terus menekan tombol yang sesuai.

Jika kamu menekan lagi tombol QS kamu mendapatkan layar Qs2 dimana kamu bisa mengatur aspect ratio, drive mode, picture style (Vivid, Sepia dan so on) dan kualitas gambar. Sistem menu Quick Set ini sebenarnya berkerja dengan sangat baik.

Kamu mendapatkan perasaan kuat bahwa DP2s telah didesain tanpa acuan pada kamera lainnya. Desainer Sigma telah melakukannya dengan cara mereka, dan hasilnya adalah kamera dengan campuran yang sedikit tidak mudah antara ide desain yang cerdas dan aneh.


Pengambilan Foto

Itu tidak terasa responsif sebagai kamera kompak dan hibrid terbaru. Memerlukan beberapa detik untuk memulai, diikuti dengan beberapa suara yang cukup keras saat lensa memanjang.

Ini sendiri cukup aneh. Mengapa sebuah lensa dengan panjang fokal tetap seperti ini perlu memanjang? Ini merupakan body kamera mirrorless, sehingga tentunya tidak memerlukan desain rumit dan berfokus pada retro?  Mungkin ada alasan yang cukup bagus mengapa lensa Sigma perlu dikeluarkan sedikit, namun tetap disayangkan bahwa DP2s tidak memiliki lensa setara tipe pancake pada kamera Olympus Micro Four Thirds atau Panasonic GF1.

Autofokus juga terasa cukup primitif. Sigma memerlukan antara separuh hingga satu detik untuk mengunci subyek, dan diikuti oleh beberapa bunyi mekanis berisik yang bisa kamu rasakan melalui badan kamera.

Dan ada beberapa permasalahan dengan kecepatan pemrosesan. DP2s bisa mengambil 3-4 kali gambar dalam satu sesi (tergantung pada apakah kamu memotret dengan file JPEG atau RAW), namun kemudian memerlukan beberapa detik untuk membersihkan buffer sebelum siap untuk memotret lagi. Ini bisa mengganggumu jika kamu mengambil foto dalam situasi yang cepat berubah karena kamu bisa tertahan pada pemrosesan gambar tepat ketika kamu membutuhkannya.  Satu-satunya solusi adalah merencanakan dengan lebih hati-hati atau memotret dengan sedikit melambat, yang melanggar daya tarik Sigma untuk fotografi candid respon cepat atau fotografi jalanan.

Ini adalah sebuah kamera yang harus kamu gunakan dengan perhatian tertentu. Dalam beberapa cara ini merupakan hal yang baik.  Kendali manual dan lensa dengan panjang fokal tetap merupakan apa yang tepatnya kamu inginkan jika kamu mencoba untuk kembali ke jenis fotografi yang lebih mengutamakan pertimbangan.  Namun respon lamban Sigma dan pemrosesan lambat akan memperlambatmu dalam cara yang kurang diinginkan. Kamu menginginkan sebuah kamera yang membuatmu berpikir, tentu saja, namun bukan kamera yang memperlambatmu untuk sesuatu yang tidak penting.


Melihat dan Melakukan Fokus

Desain Sigma yang tradisional dan apa adanya membuatnya terasa seperti sebuah kamera dari masa lampau, dan ini akan cocok bagi para ahli foto tradisional. Sayangnya, beberapa teknologi juga tampaknya berasal dari masa lampau, yang paling kentara adalah layar LCD 2.5-inch. Berdasarkan standar apapun, bahkan kompak tipe hemat, ini cukup kecil. Lihatlah Sony NEX-3 dan NEX-5, sebagai contoh. Memiliki memiliki layar 3-inch yang bisa dimiringkan dengan 920,000 pixel - tiga kali lebih besar dari resolusi Sigma. Sayangnya, beberapa teknologi juga tampaknya berasal dari masa lampau, yang paling kentara adalah layar LCD 2.5-inch. Berdasarkan standar apapun, bahkan kompak tipe hemat, ini cukup kecil.  Lihatlah Sony NEX-3 dan NEX-5, sebagai contoh. Memiliki memiliki layar 3-inch yang bisa dimiringkan dengan 920,000 pixel - tiga kali lebih besar dari resolusi Sigma.

Kecepatan pengembangan Sigma tampak jauh lebih lambat dibandingkan yang lainnya. Tidak sulit untuk menerima bahwa sensor Foveon X3 tidak berubah sejak teknologi canggih ini berada di masa awalnya, namun layar LCD 2.5-inch, 230,000 pixel tampak ketinggalan jaman.

Kurangnya ukuran dan resolusi mempengaruhi mode fokus manual, yang kecuali jika bukan merupakan salah satu poin kuat dari Sigma. Untuk menilai fokus secara akurat, kamu perlu menekan tombol OK untuk memperbesar gambar (itu tidak melakukan zoom secara otomatis seperti kamera lainnya dalam mode MF).

Pada akhirnya, kamu mungkin lebih menyukai untuk mengira-ngira fokus dengan menggunakan skala jarak pada tombol fokus manual. Ini merupakan cara bagus untuk menemukan kembali seni yang hilang dari 'zone focusing', yang merupakan salah satu keuntungan sebuah lensa dengan panjang fokal tetap - kedalaman bidang dan jarak fokus yang berbeda dan aperture lensa bisa dilakukan cukup akurat.

Sigma DP2s Review

Itu membuat pemotretan seperti ini jauh lebih mudah, khususnya jika kamu bisa memiliki kalkulator depth of field (ada juga beberapa yang bagus di online). Kamu hanya beralih ke mode aperture-priority, mengatur aperture lensa, mengatur jarak fokus dan memotret.  Perahu ini tajam dari depan ke belakang, dimana banyak subyek lainnya dipotret pada waktu yang sama, dan tidak perlu mengutak-atik fokus.

Akan bagus jika tombol fokus bisa dikunci dalam cara tertentu. Itu sedikit terlalu mudah untuk berubah secara tidak sengaja, jadi jika kamu menggunakan fokus manual secara sering, kamu perlu tetap memeriksa jarak sebelum memotret.

Akan terdengar dari komentar ini seolah penanganan dan kendali Sigma DP2 itu sulit, namun sebenarnya tidak.  Memerlukan sedikit waktu untuk terbiasa, dan ada beberapa karakteristik yang mengganggu, namun itu merupakan kamera yang cukup lugas untuk digunakan. Hanya saja itu bisa jauh lebih baik.


Sigma Photo Pro

Software Sigma Photo Pro yang hadir dengan kamera ini sangat menarik. Kamu bisa membiarkan gambar persis seperti apa adanya dan merubahnya langsung ke dalam JPEG, kamu bisa menyesuaikan gambar secara manual dengan menggunakan rentang tone, warna dan kendali lainnya, atau kamu bisa memilih pengaturan Auto dan membiarkan software mengoptimalkan foto secara otomatis.

Ini tidak selalu berkerja dengan terlalu baik. Jika gambar memiliki rentang kecerahan yang normal, tidak masalah. Software menambahkan 'pengisian cahaya' halus yang mencerahkan tone gelap dan menghasilkan keseimbangan keseluruhan yang memuaskan.  Di dalam pemandangan dengan kontras tinggi, perlu mencoba sedikit lebih keras dan menghasilkan jenis efek 'pendar' di sekitar obyek yang terkadang kamu lihat dalam efek HDR.

Software juga bisa memulihkan sejumlah tertentu detail highlight yang tidak kamu dapatkan dalam JPEG - ini merupakan salah satu alasan bagus untuk memotret file RAW secara umum. Sayangnya, highlight yang dipulihkan bisa mengambil semburat hijau tidak menyenangkan, dan beberapa transisi tonal bisa menjadi sangat mendadak.

Sigma DP2s Review

Di sini, kesuksesan software dalam memulihkan beberapa detail highlight ekstrim di langit, namun itu diambil pada warna cyan-hijau yang tidak menyenangkan.

Nyatanya, Adobe Camera RAW sedikit lebih baik dalam memulihkan highlights 'dengan anggun' dari file RAW Sigma, walaupun tetap ada permasalahan dengan perubahan warna. Itu tidak cukup bagus dalam menghasilkan kualitas yang baik pada ISO tinggi, yang mana sebabnya kamu benar-benar memerlukan software Sigma.


Kualitas Gambar

Hingga kamu melihat dengan dekat hasil dari sensor Foveon, sulit untuk membayangkan bagaimana detail halus bisa begitu lebih tajam dari sensor biasa.  Kamu terbiasa dengan blur halus pada tingkat pixel dari kamera biasa dimana kamu mulai berhenti memperhatikan itu. Inilah mengapa kejelasan yang tajam dalam pixel DP2 merupakan sebuah anugrah.  4.7 megapixels tidak akan jauh membawamu dengan sebuah sensor biasa karena tidak akan ada cukup definisi untuk menilai peningkatan besar. Dengan DP2s, itu bisa.

Sigma DP2s Review

Berikut adalah sebuah contoh, dengan sebuah bagian yang diperbesar hingga 100%. Tidak ada penajaman tambahan atau jenis pemrosesan lainnya. Ini adalah detail yang langsung kamu dapatkan dari kamera.

Metering exposure DP2 sangat bagus, dan untuk kebanyakan tujuan sistem metering multi pola standar merupakan yang kamu perlukan.

Sigma DP2s Review

Gambar ini menunjukkan hasil terbaik DP2s. Itu menangkap setiap detail menit, semua tonal halus dan semua detail kaya di dalam jendela kaca bernoda ini.

Rendisi warna bisa sedikit berlapis, ini sebagian disebabkan koreksi Auto yang terkadang tidak bisa diprediksi di dalam software Sigma Photo Pro, dan sebagian sistem auto white balance.

Sigma DP2s Review

Dua gambar berikut hanya diambil terpisah beberapa detik, dan tidak ada penyesuaian yang dibuat pada kamera, namun white balance telah berubah secara drastis.

Penggunaan white balance presets memberikan hasil yang paling bisa diprediksi, dan merupakan ide bagus untuk mendapatkan nilai exposure yang benar ketika kamu memotret daripada bergantung pada jenis pemulihan highlight ketika memotret file RAW karena perubahan warna yang tidak diinginkan.

Penggunaan lensa dengan panjang fokal tetap memiliki manfaat dalam beberapa cara. Ketika kamu memotret, itu mendorong kamu untuk berjalan mendekati dan di sekitar obyek, dan bereksperimen lebih banyak dengan sudut dan komposisi. Zoom bisa membuat kamu malas.  Perkiraan kedalaman bidang juga menjadi lebih mudah, karena kamu berkerja pada panjang fokal tunggal (kedalaman bidang berubah dengan pengaturan zoom yang berbeda, bahkan jika aperture lensa tetap sama). Namun, disayangkan Sigma tidak bisa memadukan indikator untuk kedalaman bidang. Namun, disayangkan Sigma tidak bisa memadukan indikator untuk kedalaman bidang.

Lensa dengan panjang fokal tetap juga menyediakan kualitas gambar yang sangat bagus, dengan definisi antar tepi yang bagus dan distorsi dan penyimpangan kromatik minimal.


Bagaimana Itu Dibandingkan Hibrid

Ada banyak untuk dikatakan mengenai DP2. Itu sederhana, solid, dan menghasilkan gambar dengan kualitas unik dan sangat berbeda dibandingkan kamera digital lainnya.  Tingkat pengembangan di Sigma lambat dibandingkan yang lainnya, namun ini juga memberikan kamera seri DP sebuah elemen stabilitas jangka panjang, yang merupakan sebuah perubahan menyegarkan di dalam itu sendiri.  DP2s merupakan kamera polos apa adanya di dalam sebuah era dimana rivalnya dipenuhi dengan gawai, inovasi dan tipu muslihat penjualan.

Namun ada banyak juga yang salah mengenai itu. Permasalahan utama adalah autofokus yang lambat dan berisik, pemrosesan gambar yang lambat dan display LCD berkualitas rendah. Dan semuanya terlalu jelas ketika kamu membandingkan DP2s terhadap generasi terbaru hibrid kompak. Kamera-kamera tersebut tidak ada ketika DP1 pertama kali diluncurkan, namun sekarang mereka membanjiri pasar.

Sebagai contoh ada seri Olympus Pen. Mereka menggunakan lensa yang bisa diganti, yang tidak ditawarkan Sigma, dan jika kamu lebih menyukai kesederhanaan lensa tunggal Sigma, kamu bisa mencocokkan lensa pancake 17mm dari Olympus.

Atau ada Panasonic GF1. Sekali lagi, itu menggunakan lensa yang bisa diganti, namun ada lensa pancake 20mm luar biasa jika kamu ingin tetap sederhana.

Sony NEX-3 dan NEX-5 sedikit berbeda dalam cara mereka melayani kelas pemula dan kakap dibandingkan penggemar (antarmuka yang lambat terlihat pada itu), namun kualitas display, sistem AF yang responsif dan kecepatan pemrosesan (keduanya bisa dipotret pada 7fps) menunjukkan seberapa jauh Sigma telah tertinggal.


Putusan

DP2s merupakan sebuah kamera unik, sebagian karena desain kembali ke awal dan sebagian karena sensor Foveon. Namun meskipun itu memiliki banyak kualitas penting, sekarang itu bersaing melawan kamera yang lebih cepat, lebih baik dan lebih tangguh. Untuk beberapa saat, kamera seri DP membuat jejak baru, namun bisa saja bahwa masa mereka sekarang telah berlalu.


Pro

  • Detail tingkat piksel yang luar biasa
  • Desain apa adanya yang menyegarkan
  • Tombol fokus manual
  • Kualitas lensa yang bagus

Kontra

  • Lensa yang tidak bisa diganti
  • Autofokus dan pemrosesan gambar yang lambat
  • Display LCD berkualitas rendah
  • Reproduksi warna yang tidak pasti, khususnya dari software Sigma Photo Pro
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.