Unlimited AE and Premiere Pro templates, videos & more! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Photography Fundamentals
Photography

Memahami dan Menghargai Dasar-dasar Foto Jurnalistik

by
Length:LongLanguages:
This post is part of a series called Photojournalism.
Climate Change: How Photographers Can Make a Difference
On Assignment: Photographing the Pope in Italy

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Muhammad Naufal (you can also view the original English article)

Setiap dua minggu, kami mengunjungi kembali beberapa postingan favorit dari pembaca kami sepanjang sejarah Phototuts+. Tutorial ini pertama kali terbit pada bulan Januari tahun 2010.

Dapat dikatakan bahwa foto jurnalistik adalah bentuk komunikasi massa yang paling universal. Menulis dan berbicara keduanya membutuhkan pengetahuan tentang bahasa tertentu, namun gambaran visualnya dalam banyak hal bisa dipahami oleh siapa pun. Ekspresi wajah, emosi, gerakan dan postur tubuh serta komposisi, cahaya dan bayangan bisa menceritakan sebuah cerita dengan cara yang sama layaknya kata-kata.

Tutorial ini bukan dimaksudkan untuk segera mengubah anda menjadi seorang jurnalis foto, tapi mudah-mudahan ini akan memungkinkan anda untuk lebih memahami keahlian itu sepenuhnya. Ini akan membantu anda untuk lebih berempati dengan para profesional yang mempraktikkannya, mengetahui apa yang diperlukan untuk menciptakan gambar yang anda lihat dalam berita, atau membuat keputusan terdidik tentang menambahkan perburuan foto jurnalistik ke kehidupan fotografi anda.

Mendefinisikan Foto Jurnalistik

Pertama mari kita definisikan dulu apa itu foto jurnalistik . Pada tingkat yang paling dasar, ini adalah bercerita dengan foto. Tapi di atas semua itu, cerita yang dibuat harus mengikuti peraturan jurnalistik. Semua itu harus cerita yang jujur dan wartawan harus mencoba menceritakannya dengan cara yang paling adil, seimbang dan tidak memihak sebisa mungkin. Seorang foto jurnalis dapat mengambil banyak bentuk, namun secara umum anda menemukannya di surat kabar, majalah, stasiun berita dan situs web dan terus tumbuh banyak ditemukan bekerja di media lain, seperti berita tradisional non-visual lainnya, seperti stasiun radio yang telah memperluas jangkauan mereka ke internet.

Pekerjaan Foto Jurnalis

Seorang staf fotografer adalah seseorang yang bekerja untuk publikasi tertentu, mengambil gambar untuk publikasi tersebut adalah pekerjaan penuh atau paruh waktu mereka. Seorang fotografer pembantu atau freelance memotret banyak publikasi. Sejumlah organisasi yang berbeda dapat meminta layanan freelancer untuk pekerjaan tertentu atau jangka waktu tertentu. Freelancer biasanya memiliki daftar klien tempat mereka bekerja. Pelanggan ketiga jurnalis foto adalah wire service seperti Associated Press atau Reuters. Koran dan kantor berita lainnya yang berlangganan wire service (pengguna layanan sistem komunikasi listrik). Wire services menyediakan liputan berita ke jaringan luar ini yang seringkali tidak mampu mengirim reporter mereka sendiri ke lokasi terpencil.

Foto di bawah ini adalah tugas yang khas. Editor saya mengatakan bahwa ada guru besar di sekolah lokal yang memiliki prinsip "membangun karakter" yang terintegrasi ke dalam kelas seninya seperti integritas, kebijaksanaan, kebaikan dan kehormatan, dan saya harus membuat sebuah gambar untuk mengikuti cerita itu.

photojournalism basics

Photo Assignment (Penugasan Foto)

Kehidupan foto jurnalistik bisa menggairahkan. Anda bisa dikirim ke mana saja untuk bertemu dengan orang lain. Lebih dari sekadar fotografi dan jurnalisme, pengalaman dari keragaman dan keberagaman ini bisa menjadi bagian profesi yang paling berharga. Tugas dari general news hanya itu, umumnya. General news adalah sesuatu yang direncanakan. Sebuah pesta makan malam, sebuah penggalangan dana, sebuah demonstrasi, sebuah konferensi pers, sebuah upacara penghargaan, penanaman pohon, ini adalah semua jenis tugas atau pekerjaan general news.

Kunci untuk meliput kejadian ini (dan sebagian besar jenis tugas) adalah mencoba menceritakan cerita lengkap dengan gambar anda. Misalnya, foto di bawah ini disertai cerita tentang kelas sains yang sedang membantu untuk merawat bayi robin yang terlantar untuk kembali sehat. Saya ditugaskan untuk mengunjungi kelas dan melihat apa yang mereka lakukan. Foto menunjukkan semua elemen cerita: kelas, guru, robin dan bagaimana mereka membantu.

photojournalism basics

Sport atau Olahraga

Sport fotografi adalah versi khusus dari general news. Ini melibatkan aksi tinggi dan fotografer harus bisa merasakan timing waktu yang sangat baik. Dalam sport fotografi, anda ingin menunjukkan konflik dan emosi. Ini biasanya berarti mendapatkan foto pemain dari kedua tim dan hal yang mereka perjuangkan (biasanya bola). Emosi datang dengan menunjukkan wajah para pemain. Itu bisa jadi sulit semisal memukul lengan atau kepala, tapi memotret sport terbaik tidak hanya menunjukkan tindakan, tapi juga menunjukkan emosinya.

Spot News (Berita Spot)

Dalam beberapa hal, Spot news adalah, kebalikan dari general news. Spot news adalah sesuatu yang tidak direncanakan seperti kecelakaan mobil atau kebakaran. Tipe dari tugas ini, informasi adalah hal yang paling penting. Anda membutuhkan informasi agar tetap aman dan membuat foto yang menceritakannya yang paling bagus. Anda membutuhkan keterampilan me-report untuk mendapatkan informasi tentang siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan apa yang sebenarnya terjadi. Menjadi terampil dalam menangani petugas penegak hukum atau tim penyelamat seringkali diminta dalam situasi ini. Anda bisa melihat foto spot nanti di tutorial ini.

Potrait

Fotu jurnalis juga memotret potrait. Sementara biasanya mereka tidak pernah memotret orang berpose, potrait adalah pengecualian. Potrait jurnalistik biasanya menunjukkan seseorang di lingkungan mereka; Seorang hakim di kantor mereka, seorang pelukis di studio mereka. Subjek biasanya melihat langsung ke kamera sehingga pemirsa tahu bahwa itu adalah potrait. Subjek biasanya tidak melakukan apa pun, sekali lagi karena penonton tidak boleh bingung apakah foto tersebut merupakan pose potrait atau real,  dokumentasi bagian dari jurnalisme.

The Photo Story (Foto yang Menceritakan)

Jenis tugas terakhir ini adalah photo story atau proyek dokumenter jangka panjang. Jenis pekerjaan ini mengharuskan fotografer menghabiskan waktu yang lama untuk mendokumentasikan tindakan subjek. Photo story biasanya melibatkan banyak foto yang mengikutinya bersamaan. Contohnya adalah mengikuti keluarga pengungsi atau mendokumentasikan kehidupan sebuah keluarga dengan orang yang dicintai yang sakit.

Orang Hebat

Foto jurnalistik tidak pernah menjadi profesi pencari ketenaran. Tapi dalam hal ketenaran dalam industri, ada ratusan shooter atau fotografer yang menakjubkan untuk dipilih. Saya akan fokus pada tiga hal yang menjadi favorit pribadi saya. Saya memilih ketiganya karena mereka memiliki sebagian besar sejarah foto jurnalisme.

Sebelum saya melanjutkan, izinkan saya mengatakan bahwa saya orang Amerika, oleh karena itu saya sangat mengenal fotografer Amerika. Ada jurnalis foto lain yang tidak terdaftar di sini seperti Henri Cartier-Bresson dari Prancis, Robert Capa yang bekerja di seluruh Eropa, Shisei Kuwabara di Jepang, dan Sebasitiao Salgado dari Brasil. Ketiga jurnalis foto yang saya pilih juga semua laki-laki. Profesi ini juga memiliki banyak wanita terkemuka, seperti Annie Leibovitz, Margaret Bourke-White dan Susan Meiselas.

W. Eugene Smith

W. Eugene Smith lahir pada tahun 1918 dan meninggal pada tahun 1978. Keistimewaan Smith adalah photo story, pada saat majalah seperti 'Life' mengisi halaman mereka dengan karya dokumenter. Smith meliput Perang Dunia ke II di Pasifik, namun paling terkenal dengan karya barunya. Esai favorit saya oleh Smith disebut "Country Doctor" yang diterbitkan pada tahun 1948. Hal ini sering dikreditkan sebagai "photo story" modern pertama.

Eddie Adams

Eddie Adams lahir pada tahun 1933 dan meninggal pada tahun 2004. Ia meliput 13 perang. Dia mungkin paling terkenal dengan fotonya Jenderal Nguyen Ngoc Loan yang mengeksekusi seorang tahanan Viet Cong di Saigon. Timing-nya, atau keberuntungannya, membawanya untuk membuat frame ini yang menunjukkan saat peluru tepat memasuki kepala tahanan. Untuk ini ia memenangkan Pulitzer Prize. Eddie Adams juga memulai sebuah workshop foto jurnalisme. Tempat workshop-nya mungkin yang paling diminati oleh siswa di A.S. dan standar untuk penerimaan sangat tinggi.

James Nachtwey

James Nachtwey lahir pada tahun 1948 dan masih memotret. Dia baru-baru ini diberi Hadiah TED pada tahun 2007, yang mendapatkan hadiah $100.000 dan sebuah "harapan yang mengubah dunia." Utamanya dia adalah seorang fotografer perang, dan sebuah film dokumenter dibuat tentang dia yang disebut “War Photographer" atau "Fotografer Perang". Pada bagian film ini, kamera video kecil terpasang pada kameranya sehingga memungkinkan anda melihat apa yang James Nachtwey lihat. Beberapa karya favorit saya oleh Nachtwey adalah foto orang-orang yang menderita AIDS di Afrika dan proyek TED Prize baru-baru ini pada pendrita tuberculosis resistan terhadap obat-obatan.

Skill atau Keterampilan

foto jurnalistik adalah bidang yang sangat kompetitif. Untuk memiliki karir yang sukses sangat penting memiliki keahlian yang tepat. Pertama, keterampilan seseorang adalah hal yang paling penting. Seorang jurnalis foto harus bisa cepat mendapatkan kepercayaan dari subjek mereka dan melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang tidak akan melanggar kepercayaan itu. Keterampilan jurnalisme yang kuat berjalan beriringan dengan itu. Mengetahui bagaimana menentukan aspek terpenting dari sebuah cerita dan bagaimana melaporkannya kepada publik menjadi sangat penting. Ini berarti kebanyakan jurnalis foto dilatih dalam aspek jurnalisme lainnya termasuk menulis dan mewawancarai.

Shooting Skill (Keterampilan Memotret)

Seseorang yang mencari posisi sebagai foto jurnalistik juga harus memiliki portofolio yang sempurna. Portofolio harus berisi berbagai gambar dari jenis pekerjaan yang disebutkan di atas, dan gambar tersebut harus menunjukkan kemampuan untuk bekerja dalam situasi sulit. Kehancuran banyak orang ketika memulai dalam foto jurnalistik adalah bekerja dalam situasi yang kurang cahaya. Foto di bawah ini pada dasarnya diambil di malam hari tanpa lampu flash. Shutter speed sekitar seperdelapan second, tapi karena saya telah berlatih menenangkan diri dan saya tahu untuk menggunakan motor drive saya untuk menembak dalam keadaan yang banyak getaran, saya menghasilkan gambar tajam yang hanya diterangi oleh lilin.

Tiga elemen foto terbesar adalah light (cahaya), komposisi dan momen. Mengetahui bagaimana menggunakan lampu flash saat dibutuhkan dan mencari cahaya alami yang dramatis adalah keterampilan yang baik untuk dimiliki. Juga mengetahui dasar-dasar komposisi seperti rule-of-third, leading line dan repetition of form akan membawa anda jadi lebih baik. Tapi menemukan momen sempurna adalah yang terpenting. Carilah puncak emosi.

photojournalism basics

Technology Skill (Menguasai Teknologi)

Seorang jurnalis foto modern juga wajib untuk dapat lebih secara digital dan mentransmisikan gambar mereka dan menjadi ahli dalam online tools seperti blogging dan media sosial. Tren sekarang adalah bergerak menuju lebih banyak video untuk web. Foto jurnalis sekarang sering membawa peralatan video untuk mengambil footage "rekaman video" saat dibutuhkan. Dengan adanya video berarti juga dibutuhkkan untuk memiliki pengetahuan dasar tentang software editing video.

Ethic atau Etika

Hal yang paling penting, hal yang memisahkan foto jurnalistik dari bentuk fotografi lainnya adalah trust atau kepercayaan. Orang yang menyaksikan harus bisa percaya bahwa gambar yang mereka lihat merupakan representasi sebenarnya dari apa yang sedang terjadi Ini berawal dari dua isu utama: intervensi dan manipulasi. Seorang jurnalis foto tidak boleh meng-intervensi situasi. Dia tidak bisa mengarahkan atau memposekan subjek mereka, kecuali jika situasi memanggil untuk melakukan portrait, kemudian mereka mengikuti peraturan yang disebutkan di atas di bagian penugasan foto. Portrait juga diberi label seperti di caption dengan menggunakan ungkapan seperti "Mr. Smith berpose "dan sejenisnya.

Bisa dikatakan bahwa kehadiran seorang fotografer saja bisa mengubah situasi. Meskipun terkadang ini benar, pengaruhnya bisa diminimalisir dengan kesabaran dan latihan. Orang pada akhirnya akan terbiasa menjadi seorang fotografer, dan dalam kasus yang menguntungkan, subjek bersama-sama akan menghiraukan semuanya. Jurnalis foto harus pandai menjelaskan tujuannya sehingga subjek mengerti bahwa mereka harus berpose atau mengubah tingkah lakunya.

Post-Production Ethic (Etika Pasca Produksi)

Manipulasi foto juga dilarang keras. Hal ini berlaku terutama untuk pasca produksi. Tidak ada yang harus diedit ke dalam atau di luar gambar. Pekerjaan pasca produksi harus benar-benar hanya berfokus pada koreksi masalah warna, masalah exposure dan latitude, dan sedikit masalah ketajaman. Kamera masih kurang bagus dalam menampilkan gambar seperti mata yang besar, jadi terkadang kita harus memoles tampilan mereka.

Cropping juga masih diperbolehkan. Tapi ringkel atau keriput harus tetap di situ, kantung di bawah mata tetap di situ, noda pada kemeja tetap ada. Seorang jurnalis foto tidak bisa memindahkan bola basket yang ada di dalam frame atau mengambil sesuatu atau memasukkan sesuatu. Menambahkan efek dramatis seperti vignetting, filter artis dan sebagainya juga bertentangan dengan peraturan.

Pendekatan dan Sikap yang Etis

Sisi lain dari etika adalah bagaimana jurnalis foto tersebut memotret dan menggambarkan subjek mereka. Hal ini membutuhkan kasih sayang dan ketertarikan yang tulus terhadap orang dan topik yang dibahas. Bagian etika ini yang paling sulit untuk dibicarakan, jadi saya ingin menggambarkan situasi yang pernah saya alami yang selalu terjadi di dunia jurnalistik.

Saya dipanggil ke tempat kejadian kecelakaan, jadi di lapangan ini akan jatuh ke dalam kategori spot news. Seorang gadis muda tertabrak mobil. Itu adalah sebuah kecelakaan dan pengemudi tidak mabuk dan juga tidak sengaja menabrak anak itu. Ketika sampai di tempat kejadian, supirnya masih ada bersama dengan banyak anggota keluarga korban. Kedua pihak saling mengenal dan kami berkabung bersama. Saya membuat foto di bawah ini. Ini sedikit grafis yang sesuai dengan darah di kemeja pengemudi.

Gambarannya jelas menarik, tapi apa gunanya? Apakah itu berita? Anda sering tidak dapat membuat keputusan saat anda berada di lapangan. Setelah kembali ke ruang berita, reporter tersebut telah menemukan bahwa kompleks apartemen tempat kecelakaan itu terjadi baru-baru ini telah mengirim sebuah surat ke semua penduduknya untuk meminta mereka ekstra hati-hati saat mengemudi untuk keselamatan anak-anak dan pejalan kaki. Jadi kami segera mengambil foto. Kemudian gadis muda itu meninggal di rumah sakit, tapi intinya berita itu bukan untuk mengeksploitasi kematiannya, tapi untuk meningkatkan kesadaran akan sebuah masalah. Ini adalah sebuah garis tipis dan membutuhkan banyak pemikiran dan diskusi sebelum membuat keputusan akhir.

photojournalism basics

Akses

Tanpa rasa kasih sayang dan kepercayaan, akses tidak akan pernah datang. Dengan akses, maksud saya meyakinkan orang untuk mengizinkan anda mendokumentasikan hidup mereka, untuk memberi anda akses ke cerita mereka. Cerita terbaik tidak berasal dari konferensi pers atau tatanan hubungan masyarakat, mereka datang dari luar sana dan temukan orang-orang yang menarik. Meminta orang-orang untuk memperbolehkan anda mengikuti mereka di sekitarnya, kadang-kadang selama berbulan-bulan, dan ini sulit. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Analisis Risiko/Manfaat

Pertama, jurnalis foto harus menentukan bagaimana cerita dari subjek akan bermanfaat bagi publik. Kedua, harus ditentukan bagaimana ceritanya akan mempengaruhi subjek secara pribadi. Mungkinkah ini membantu mereka mencapai sesuatu yang mereka inginkan atau bisa merusak reputasi mereka dan membuat hidup mereka jadi lebih sulit? Setiap cerita memiliki faktor unik sendiri, namun jurnalis foto harus menunjukkan tindakan menyeimbangkan antara yang baik untuk umum dan kerugian pribadi atau keuntungan untuk subjek mereka dengan cara yang mereka pahami. Setelah itu, terserah apakah mereka mengizinkan akses ke atau tidak. Namun, begitu jurnalis diizinkan masuk ke dalam sebuah situasi, terserah mereka untuk berperilaku dengan cara yang memungkinkan akses terus berlanjut. Pada dasarnya, mereka tidak harus diusir... setidaknya tidak untuk selamanya.

"Out" atau "Keluar"

Tapi memberi subjek anda kekuatan untuk mengusir anda keluar untuk sementara adalah ide yang sangat bagus. Mari saya jelaskan, banyak jurnalis foto memberi subjek mereka kata "keluar". Mereka mengatakan kepada mereka bahwa mereka merasa tidak nyaman dan ingin mereka pergi sebentar, itu tidak masalah. Memberi subjek pelarian sementara dari mata publik itu penting, tapi biasanya mengetahui bahwa mereka memiliki power untuk mengusir anda pergi tanpa anda marah itu sudah cukup. Memilih pilihan tersebut seringkali lebih utama untuk digunakan.

Dedikasi dan Kasih Sayang

Terakhir, subjek harus tahu bahwa jurnalis juga didedikasikan untuk bercerita. Menghabiskan banyak waktu dengan subjek bisa sangat membantu dan dengan saling percaya dan penuh kasih sayang. Foto di bawah ini adalah bagian dari cerita yang saya lakukan tentang seorang ibu yang membesarkan anak perempuannya yang mengidap Cerebral Palsy. Putrinya, Lianna, berusia sekitar 5 tahun dan hanya bisa melakukan sedikit hal untuk dirinya sendiri.

Ibunya harus memberinya makan, memandikannya, membawanya, mengangkatnya dan menafsirkan matanya memberi isyarat untuk mengetahui apa yang ingin dikatakannya karena dia tidak dapat berbicara. Karena waktu yang saya habiskan bersama keluarga ini, ibunya memberi saya akses terhadap segalanya, bahkan termasuk waktu mandi untuk menunjukkan sejauh mana Lianna mengandalkan ibunya.

photojournalism basics

Storytelling

Seperti yang saya sebutkan tadi, foto jurnalisme adalah tindakan bercerita dengan foto. Sebagian besar cerita di surat kabar dan majalah hanya memberi ruang bagi satu foto saja untuk disertakan, oleh karena itu semakin besar hal yang bisa anda ceritakan itu lebih baik. Ada banyak cara untuk melakukan ini, tapi saya akan fokus pada dua alat terkuat di tas jurnalis foto.

Layer atau Lapisan

Seringkali layer digunakan untuk menambahkan konteks pada sebuah gambar. Sebuah foto yang menunjukkan seorang musisi sedang bermain dengan antusias bisa diambil di manapun, tapi pemusik yang sama dengan banyak orang di latar belakangnya menceritakan sebuah cerita. Mungkin kerumunan orang itu suatu hal yang besar dan pemusik sedang memberi makanan energi ke mereka, atau mungkin kerumunan orang suatu hal yang kecil dan pemusik masih memberikan semua yang dimilikinya. Apa pun yang terjadi, layering konten menambahkan banyak cerita. Layer tidak harus dalam skala besar seperti itu, elemen kecil dan detail juga bisa menambahkan layer ke konten tersebut.

Emosi

Aspek penting lainnya dalam menceritakan cerita adalah emosi. Jurnalis foto harus menjadi ahli dalam membaca dan yang lebih penting lagi mengantisipasi ekspresi wajah. Sebuah air mata, sebuah tatapan penuh perhatian, senyuman gembira, semua ini mengungkapkan bagaimana subjek dari foto itu merasakan tentang apa yang sedang mereka lakukan. Sejak kita masih bayi, kita belajar mengenali wajah orang-orang yang ada di sekitar kita, memanfaatkannya itu dalam sebuah foto bisa sangat berguna.

Foto di bawah ini adalah veteran Perang Dunia II. Dia bertempur di Pasifik dan dianugerahi medali untuk jasanya oleh Veterans of Foreign Wars association setempat. Medali dan lencana orang lain di foto tersebut membuat layer dan saya percaya bahwa ekspresinya menunjukkan apresiasi, semoga ini mudah dibaca oleh pemirsa. Saya harap tutorial ini memberi anda wawasan yang lebih baik tentang dunia foto jurnalistik.

photojournalism basics
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.