Unlimited AE and Premiere Pro templates, videos & more! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Night Photography

Lensa Zoom V.S. Lensa Prime Untuk Night Photography

by
Difficulty:IntermediateLength:LongLanguages:
This post is part of a series called Night Photography.
Manual Versus Autofocus Lenses for Night Photography
Everything but the Camera: More Essential Night Photography Gear

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Yosef Andreas (you can also view the original English article)

Dari seluruh bagian kit anda, lensa adalah tool yang paling powerful. Lensa, melebihi bagian kamera yang manapun, menciptakan tampilan dan nuansa foto anda. Dan itu tidak hanya tentang focal-length dan aperture saja: karakter kaca dan konstruksi lensa anda menciptakan mutu visual tertentu. Beberapa lensa menghasilkan gambar yang sangat tajam, sedangkan yang lainnya lembut. Beberapa lensa menghasilkan gambar yang hangat dan terang, sementara lensa lain menghasilkan gambar yang cool dan moody. Seorang fotografer berusaha keras untuk mencari lensa dambaan demi cara khas mereka mengambil gambar.

Pada tutorial ini kita akan melihat berbagai jenis lensa yang berbeda - zoom vs prime - untuk night photography. Kita akan membahas fitur dan kelemahan masing - masing, dan bagaimana cara memilih lensa untuk memotret di malam hari.

Fokus Bahasan

Sebelum kita memulai memilih antara lensa zoom vs prime untuk night photography, sebaiknya kita menentukan beberapa pokok bahasan. Tiap diskusi tentang lensa, panjang fokal (focal length) dan aperture begins with terms of reference.

Full Frame

Format 135 selalu dikaitkan sebagai "full frame", istilah modern untuk sensor digital yang memiliki area gambar yang sama dengan film 35mm. Ketika disebutkan kombinasi antara focal length sebuah lensa dan kamera, biasanya itu dijelaskan dengan istilah "setara dengan focal length format 35mm".

Focal length sebuah lensa biasanya disebutkan dalam millimeter, dimana semakin kecil nilainya menunjukkan sudut pengambilan gambar yang semakin luas. Sudut ini dapat dibagi menjadi tiga kategori terpisah: wide angle, normal dan telephoto.

Kombinasi yang normal antara kamera dan lensa setara dengan diagonal gambar format kamera. Dimensi area gambar format 135 adalah 24mm x 36mm: diagonal area gambar sekitar 43mm.

Sementara lensa 50 mm pada kamera full frame akan mirip dengan diagonal 43mmm dan ditetapkan sebagai "normal." Sebuah lensa yang normal kira - kira memberikan perspektif yang sama dengan mata manusia. Focal length lensa yang kurang dari 40mm dinyatakan sebagai wide angle dan focal lengths di atas 60mm disebut dengan telephoto.

Crop Factor

Kamera dengan ukuran sensor yang berbeda menggunakan "crop factor" untuk menyatakan perbandingan 135mm terhadap focal length yang didapat. Ini memberikan anda "kesetaraan focal length" full frame untuk tiap kombinasi lensa dan kamera. Sebuah kamera APS-C memiliki crop factor sekitar 1.5 kali kamera full frame. Untuk Micro Four Thirds anda perlu mengalikan focal length terhadap faktor 2. Ini berarti bahwa pada kamera Micro Four Thirds sebuah lensa normal 50mm sekarang menjadi lensa telephoto 100mm karena anda mengalikan dengan crop factor 2.

Full-frame (paling kiri), APS-C (tengah) dan Micro Four Thirds (paling kanan). Sebuah crop factor untuk sistem kamera selain format 135 perlu diterapkan untuk memberikan kombinasi kesetaraan kamera full frame dan lensa.

Crop factor juga membantu untuk menentukan depth-of-field atau zona fokus pada aperture yang diberikan. Sebuah format film atau ukuran sensor menurunkan depth of field pada saat yang sama dengan aperture yang naik. Anda mendapatkan tambahan f-stop dan depth-of-field untuk kamera APS-C dan two stops untuk sistem Micro Four Thirds.

Lensa prime Olympus Micro Four Thirds 17mm f2.8 ini dipasang pada sebuah body Panasonic GH2 memberikan kira - kira sudut pandang yang sama dengan lensa dengan focal length 35mm pada kamera full frame karena 2 kali crop factor (17mm X 2 crop = 34mm). Bagaimanapun juga, depth of field pada maksimum aperture f2.8 setara dengan f5.6 pada sistem full frame.

Untuk night photography, kamera crop-sensor dapat menghasilkan hasil sebagus kamera full frame. Mereka tidak mempunyai kualitas gambar yang sama pada ISO yang sangat tinggi, namun jika digunakan pada ISO 200 hingga ISO 1600 banyak kamera APS-C dan Micro Four Thirds sangat mampu diandalkan saat membuat exposure di malam hari. Kamera ini juga memiliki keuntungan lebih kecil, menggunakan lensa yang lebih kecil, dan memerlukan sedikit daya. Mereka juga umumnya lebih murah dibandingkan full frame.

Aperture

Aperture mengacu pada diameter bukaan tempat cahaya masuk ke dalam lensa. Itu memiliki skala numeris yang diukur dalam f-stops. Sebuah lensa yang cepat memiliki aperture yang besar dan membuat lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam kamera dan sensor gambar.

Dengan menyesuaikan aperture ini jumlah cahaya yang memasuki kamera dapat dikontrol dengan cara yang sama seperti pupil mata kita beraksi saat cahaya masuk ke dalam mata kita. Ketika sebuah cahaya yang terang pupil mengecil sehingga hanya sedikit cahaya yang memasuki mata. Ini memiliki efek meningkatkan depth of field yang berarti akan lebih banyak zona fokus.

Aturan yang sama berlaku ketika anda menurunkan (stop down) atau menaikkan (open up) aperture sebuah lensa. Saat ukuran aperture meningkat akan lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam kamera dan depth of field berkurang begitu pula sebaliknya: saat ukuran aperture menurun akan lebih sedikit cahaya yang memasuki lensa sehingga depth of field meningkat.

Memahami aturan focal length dan aperture sangat kritis untuk mengendalikan "zona fokus" dalam gambar anda. Anda dapat menggunakan kontrol fokus ini untuk memisahkan subjek tertentu dalam frame atau untuk memastikan keseluruhan frame dalam fokus yang tajam.

Perihal Perspektif

Pemilihan lensa juga mempengaruhi tool komposisi penting lainnya: perspektif.

Normal

Subjek yang dipotret dengan lensa 50mm menunjukkan tidak ada distorsi geometrik dan tampak... normal. Lucu sekali! Bagaimanapun juga, jika anda mengganti lensa 50mm dengan lensa wide angle ekstrem 20mm sebuah gambar yang benar - benar berbeda akan muncul.

Wide

Objek tampak lebih kecil dan lebih jauh dari kamera saat sudut pandang meningkat. Jarak antara objek terpisah juga kelihatan bertambah. Garis lurus mungkin tampak melengkung khususnya ke arah tepi frame dan objek dapat tampak terdistorsi.

Distorsi ekstrem sebuah lensa 8mm fisheye telah menekan garis lurus bangunan ini dan membuatnya tampak melengkung. Perspektif dalam gambar ini menampakkan perasaan terkurung sebagaimana menara yang tampak di atas viewer.

Telephoto

Jika anda mengganti lagi sebuah lensa wide angle 20mm dengan lensa telephoto 100mm akan memiliki efek memperbesar ke dalam objek anda dan membuat sudut pandang lebih sempit. Lensa telephoto juga mempersempit jarak antara subjek sehingga membuatnya tampak dekat bersama.

Focal length normal atau telephoto bagus untuk fotografi petir karena anda perlu menjaga jarak dari subjek yang berbahaya. Foto ini diambil menggunakan lensa zoom Nikkor 80-200mm f2.8 pada 90mm dengan kamera APS-C Nikon D200 membuat focal length setara dengan lensa 135mm pada kamera full frame.

Anda dapat juga meningkatkan atau menurukan ukuran subjek dalam frame dengan menggerakkan kamera mendekat atau menjauh dari subjek. Memindahkan kamera mengubah perspektif dan anda dapat mengendalikan skala objek dalam frame sesuai penempatan kamera.

Mengontrol perspektif adalah tool penting dalam perlengkapan setiap fotografer. Itu dapat digunakan dalam berbagai cara kreatif untuk membentuk scene anda.

Sweet Spot

Sangat sedikit sekali lensa yang befungsi optimal pada aperture ekstrem. Dengan kata lain, anda harus menghindari memotret pada aperture maksimum dan minimum jika memungkinkan. Pada pengaturan wide-open dan closed-down lensa menampilkan sejumlah cacat optik. Ini dapat sangat menurunkan kualitas gambar.

Pada aperture maksimum dengan lensa terbuka penuh anda akan mendapatkan efek softening pada gambar disebabkan coma, juga dikenal sebagai astigmatism. Anda mungkin juga memperhatikan lebih banyak vignetting dan warna yang pecah bersama dengan kehilangan kontras ketika lensa terbuka penuh.

Ketika sebuah lensa diturunkan pada aperture minimum anda juga akan melihat penurunan mutu gambar dari efek difraksi. Difraksi menyebabkan kehilangan resolusi, membuat gambar tampak lebih lembut. Ini tampak lebih jelas pada kamera dengan sensor yang lebih besar.

Jadi, mutu gambar terbaik pada aperture pertengahan. Ketika anda menggabungkan aperture ini dengan nilai ISO yang rendah dan platform kamera yang stabil anda dapat meningkatkan kualitas gambar night photography secara drastis.

Sebagai aturan kunci anda sebaiknya menggunakan aperture paling tidak dua stop di atas aperture maksimum dan dua stop di bawah aperture minimum. Saya biasanya memotret menggunakan aperture di antara f/5.6 dan f/11. Aturan dibuat untuk dilanggar dan dengan pengalaman anda akan tahu kapan anda dapat melanggar aturan tersebut.

Diagram ini menunjukkan aperture dalam f-stop peningkatan penuh dimulai dari aperture maksimum f1.4. Semakin anda menjauh dari aperture maksimum dan minimum sebuah lensa maka secara umum kualitas gambar akan meningkat. "Sweet spot" ini dapat dilihat dari yang ditandai dengan warna merah.

Dengan memiliki aperture maksimum yang besar - katakanlah f/1.4 atau f/2 - membuat gambar dalam viewfinder lebih terang. Ini membantu dalam memastikan fokus kritikal dalam kondisi rendah cahaya. Itu juga berarti lensa ini berkerja optimal pada aperture di sekitar f2.8 hingga f/4, yang biasanya menjadi aperture maksimum kebanyakan lensa zoom dengan grade profesional. Lensa mahal tersebut masih memerlukan stopping down ke f4 atau f5.6 sebelum kualitas gambar maksimum dipastikan.

Lensa Zoom atau Prime?

Lensa datang dalam dua kategori terpisah: zoom dan prime.

Lensa Prime: Kualitas dan Karakter

Lensa prime memiliki focal length yang tetap. Ini berarti desain lensa tersebut dioptimalkan. Lensa prime umumnya mempunyai aperture maksimum yang lebih cepat. Ini memungkinkan lebih banyak cahaya masuk ke dalam viewfinder yang membuatnya lebih terang dan lebih mudah untuk fokus, dimana ini sangat berguna pada skenario cahaya rendah.

Pilihan pribadi saya yaitu menggunakan kamera full-frame, lensa prime dengan aperture cepat dan fokus manual: kumpulan lensa Nikon AI-S, yang sekarang lebih berumur, namun dengan kualitas optik yang menakjubkan. Untuk style saya pada night photography lensa - lensa tersebut menawarkan beberapa keuntungan, termasuk infinity stops terkalibrasi, aperture yang lebih lebar, dan fleksibilitas.

Lensa prime, khususnya yang berumur dan masih fokus dengan manual, mempunyai infinity stop. Sebuah infinity stop adalah sebuah batas fisik fokus terkalibrasi. Ini memastikan untuk fokus pada objek yang jauh dalam kondisi cahaya rendah. Subjek kesukaan saya, seperti petir dan astrofotografi, sangat mudah difoto dengan menggunakan fitur ini dan saya menggunakan sepanjang waktu.

Lensa prime tua juga memiliki penandaan rentang hyperfocal . Tahu bahwa anda dapat mengatur fokus dan mendapatkan depth of field maksimum bahkan tanpa perlu melihat melalui viewfinder dapat menjadi sangat berguna pada saat tersebut.

Lensa prime saya dapat berkerja pada tiga jenis kamera yang saya gunakan untuk memotret. Semuanya sama baik pada APS-C atau Micro four thirds maupun pada full frame. Fleksibilitas ini membuatnya menjadi lensa yang bagus untuk investasi jangka panjang dan saya dapat menggunakannya untuk membuat video, time lapse dan pekerjaan fotografi.

Pada sisi lain, tergantung pada subjek utama anda, lensa prime dapat menjadi kurang fleksibel dibandingkan dengan lensa zoom karena lensa ini perlu lebih sering diganti. Ini membuat anda lebih rentan terhadap debu yang masuk ke dalam kamera atau sensor digital.

Lensa Zoom: Fleksibilitas Untuk Sebuah Harga

Lensa zoom memiliki focal length yang bervariasi, membuatnya lebih fleksibel dibandingkan lensa prime. Tujuan umum lensa zoom dapat memenuhi variasi peran.

Lensa zoom dapat digunakan dalam rentang situasi fotografis. Lensa zoom Nikkor full frame 28-105mm ini memiliki rentang focal length dari wide angle hingga telephoto dan memiliki kemampuan macro yang terbatas juga.

Kebanyakan kamera entry level hadir dengan lensa zoom yang membuat anda dapat menvariasikan sudut pandang dari wide angle hingga ke telephoto. Beberapa lensa "superzooms" modern mencakup rentang focal length yang sangat luas. Mereka dapat menggantikan keseluruhan kumpulan lensa prime, yang berarti anda dapat cukup menyisakan satu lensa ini terpasang pada kamera anda tanpa diragukan lagi.

Fleksibilitas ini mempunyai harganya. Lensa zoom umumnya mempunyai kompromi pada desain optiknya dan kualitas gambar biasanya - namun tidak selalu - inferior. Dikarenakan keterbatasan desain mereka juga umumnya lebih lambat, sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam viewfinder membuatnya lebih menantang untuk mendapatkan fokus kritikal dalam cahaya rendah.

Lensa zoom memiliki kerugian yang lebih untuk night photography. Kebanyakan lensa zoom, dan khususnya yang terbaru, tidak mempunyai infinity stops atau penanda rentang jarak hyperfocal. Mereka juga seringkali lebih hambar secara optik, kurang dalam karakter yang atraktif yang dimiliki oleh lensa lama. Perhatikan bahwa lensa zoom sekarang ini mempunyai sebuah lingkaran gambar yang tidak mengcover sensor full frame. Ketika memutuskan sebuah lensa zoom, double check untuk memastikan itu akan cocok dengan kamera anda.

Pencapaian terkini dalam desain dan teknologi pembuatan, bagaimanapun juga telah menenggelamkan jarak kualitas antara lensa prime dan zoom. Saya telah menambahkan beberapa lensa zoom ke koleksi saya untuk fleksibilitas yang ditambahkan dan untuk ketika saya tidak ingin atau perlu membawa kumpulan lensa prime.

Sebagai contoh, lensa Sigma 18-35mm f/1.8 zoom baru, dapat mengganti beberapa lensa prime saya dan kecepatannya juga! Tambahkan sebuah lnesa prime 50mm dan sebuah lensa zoom 70-200mm f/2.8 dan dengan ketiga lensa ini akan mengcover banyak situasi night photography.

F8 dan tetap di sana....Itu berhasil bagi saya dan seharusnya untuk anda juga.

Lensa Anda Adalah Pilihan Kreatif Paling Powerful

Sekarang setelah anda memiliki beberapa informasi background tentang lensa anda dapat mulai membuat keputusan yang jelas tentang jenis lensa yang anda sukai untuk dimiliki tergantung pada jenis pekerjaan yang ingin anda lakukan.

Apakah fleksibilitas focal length sebuah lensa zoom lebih penting bagi anda daripada kualitas gambar terbaik oleh lensa prime? Apakah anda benar - benar membutuhkan lensa full frame jika anda hanya berniat untuk memotret pada body kamera APS-C? Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini. Dari perspektif saya lensa prime umumnya merupakan investasi yang lebih baik untuk night photography: kontras dan resolusinya lebih tajam, dan mereka memiliki cacat yang lebih sedikit dari penyimpangan bentuk dan warna. Saya mendorong anda untuk menentukan pilihan anda sendiri.

Mengetahui peralatan apa yang akan memberikan yang terbaik bagi anda dan memahami bagaimana mendapatkan yang terbaik dari gear anda membutuhkan waktu. Telitilah pilihan anda. Jika anda ingin tahu tentang lensa tertentu, cobalah menyewanya sebelum membelinya. Pengalaman dengan lensa yang berbeda dan mengamati bagaimana aperture berganti dan kualitas gambar dari efek focal length, field of view, perspektif dan depth of field.

Sampai jumpa di lain waktu ketika saya akan melihat beberapa perlengkapan dasar yang anda akan butuhkan untuk night photography dan memberi saran berdasarkan gear apa yang akan dibeli pada budget tertentu.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.