Unlimited After Effects and Premiere Pro templates, stock video, royalty free music tracks & courses! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Video

Mendapatkan Gambar Video Yang Lebih Baik: Belajar Bagaimana Mengatur Exposure

by
Difficulty:BeginnerLength:MediumLanguages:
This post is part of a series called Cinematic Shot Choices.
Sight Lines and Framing for Dynamic Video Composition

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Yosef Andreas (you can also view the original English article)

Ingin video yang tampak lebih baik? Itu bukan tentang K, itu tentang exposure. Di dalam tutorial ini, kita akan menggali ke dalam tentang bagaimana cara kerja sensor video digital.

Apakah Exposure Itu?

Exposure adalah jumlah cahaya yang diijinkan untuk mengenai sensor gambar kamera saat mengambil foto atau menangkap video. Di masa kamera film, ada beberapa jenis mekanisme yang secara fisik berada di depan film. Ketika kamu mengambil sebuah foto, mekanisme tersebut akan bergerak dan memungkinkan cahaya mengenai film selama periode waktu tertentu. Kemudian mekanisme tersebut akan bergerak kembali ke tempatnya untuk menghalangi cahaya sekali  lagi.Kamu akan benar-benar memaparkan film ke cahaya.

Film in a camera
Mekanisme yang membuka dan menutup, memungkinkan cahaya untuk mengenai film dinamakan Shutter.

Kebanyakan kamera foto digital berkerja dalam cara serupa, seperti sebuah DSLR. Namun bagaimana pun juga, kamera foto digital yang lebih kecil, dan hampir semua kamera video (kecuali kamera sine ultra canggih), tidak memiliki sebuah mekanisme fisik di depan sensor ini dan sebagai gantinya menggunakan sebuah shutter elektronik. Dengan sebuah shutter elektronik, kamera membaca informasi dari sensor. Tiap pixel diisi di awal exposure. Di akhir exposure kamera memutuskan pengisian pixel dan membaca tiap itu. Baik shutter mekanis dan elektronis berfungsi dalam cara serupa. Waktu exposure yang lebih lama menghasilkan gambar yang lebih cerah dan lebih banyak blur pada gerakan. Waktu exposure yang lebih pendek menghasilkan foto yang lebih gelap. Untuk sebuah foto, kamu berurusan dengan satu exposure atau barangkali sebuah rentetan exposure dalam satu waktu. Video merupakan aliran konstan exposure (yang disebut frame) mulai dari 24-60/detik untuk video yang tampak "normal" dan 60-2500+/detik untuk video kecepatan tinggi (gerakan lambat).

Digital camera sensor
Shutter diganti dengan sebuah sensor gambar pada kamera DSLR.

Jumlah kali per detik kamera membaca dan merekam gambar adalah frame rate.

Di dalam sistem kamera apapun, ada hal-hal yang membatasi jumlah cahaya yang mencapai sensor. Pertama, adalah lensa kamera dan aperture-nya. Semua lensa akan menghalangi beberapa cahaya. Itu hanyalah sifat optik. Jumlah cahaya yang hilang dari lensa bukanlah sesuatu yang harus kita pikirkan. Kita perlu mempertimbangkan aperture lensamu.

Apakah Aperture Itu?

Sebuah aperture adalah sebuah lubang atau bukaan tempat cahaya lewat. Hampir semua lensa pada sistem kamera modern (kecuali smartphone dan banyak kamera aksi lainnya) memiliki berbagai jenis aperture dan membuat aperture lebih kecil atau lebih besar akan mempengaruhi jumlah cahaya yang mengenai sensor.

Looking through a lens with a wide aperture
Lensa kamera dengan aperture besar.
Lens with aperture closed
Lensa kamera dengan aperture yang sangat kecil.

Ukuran aperture biasanya ditentukan sebuah angka f. Sebuah lensa biasanya memiliki seperangkat f stop untuk pengaturan nilai f. Angka yang lebih kecil berarti bukaan aperture yang lebih besar yang memungkinkan lebih banyak cahaya mencapai film atau sensor gambar. Sebuah lensa yang memiliki aperture maksimum f/1.4 akan membiarkan cahaya masuk dua kali lebih banyak daripada sebuah lensa yang memiliki aperture maksimum f/2.8. Secara serupa, pengaturan sebuah lensa yang memiliki aperture maksimum f/1.4 ke f/1.8 akan membiarkan cahaya masuk sekitar separuhnya.

Graph representing apertures in a lens
Semakin besar bukaan, semakin banyak cahaya. Semakin kecil bukaan, semakin sedikit cahaya.

Aperture juga mengendalikan Depth of Field, yaitu jarak antara obyek terdekat dan terjauh yang tampak cukup tajam di dalam sebuah gambar. Lebih lanjut tentang ini nanti!

Bagian berikutnya adalah shutter speed yang terkadang disebut shutter angle. Shutter speed adalah jumlah waktu sebuah sensor gambar dipaparkan ke cahaya. Atau di dalam kasus sebuah shutter elektronik, pixel yang diisi dari cahaya di awal exposure dan kemudian mereka diputuskan dan dibaca oleh kamera di akhir exposure. Seperti aperture, shutter speed (juga disebut waktu exposure) adalah beragam dan mempengaruhi jumlah cahaya yang ditangkap sensor. Shutter speed juga mempengaruhi berapa banyak blur gerakan di dalam gambarmu. Sebuah shutter speed yang nilainya separuh frame rate dianggap "normal", yang membuat blur gerakan serupa dengan bagaimana mata kita melihat blur. Sebagai contoh jika kamu memotret dalam 24P, yaitu 23.976 fps, sebuah shutter speed 1/50 atau 1/48 sec akan tampak sangat alami. Dengan menaikkan shutter speed ke 1/100 sec sebagai contoh, akan menghasilkan sebuah gambar yang memiliki lebih sedikit blur gerakan, namun juga lebih gelap karena sensor memiliki lebih sedikit waktu untuk memaparkan gambar.

Apa Lagi Yang Mempengaruhi Exposure?

Hal terakhir di dalam sistem kamera yang mempengaruhi exposure adalah sensor itu sendiri. Kamu dapat memikirkan ini seperti volume pada stereomu. Di dalam sebuah sistem kamera itu disebut gain atau ISO. Semua sensor gambar memiliki rentang sensitifitas yang dapat diatur untuk memaparkan gambar dengan benar. Sama seperti stereo, ketika kamu menaikkan volume kamu mendapatkan lebih banyak noise di dalam audio. Semakin kamu menaikkan sensor, semakin banyak noise ditambahkan pada gambar dan menurunkan detail dan rentang dinamis.

A stero system
Sama halnya seperti sebuah stereo, semakin tinggi nilai ISO, semakin banyak noise ditambahkan ke dalam gambar, dan menurunkan detail dan rentang dinamis.

Mari kita ulas kembali: 3 hal yang mempengaruhi exposure adalah aperture, shutter speed, dan gain atau sensitifitas gambar (ISO). Dengan mengubah salah satu dari itu tidak hanya mengubah exposure, namun juga mengubah bagaimana tampilan gambar pada beberapa derajat.

Jadi, mengapa ini penting? Itu penting karena ketika kamu menyinari sebuah pemandangan, kamu tidak hanya menyinari untuk bola matamu. Kamu menyinari untuk sistem kamera. Pencahayaan untuk bagaimana matamu melihat mirip seperti pencahayaan teater. Jika kamu menyinari sebuah panggung di dalam teater, kamu menyinari bagaimana matamu melihatnya dan itu berkerja karena mata setiap orang berkerja dengan cara yang sama. Sistem kamera memiliki banyak variabel, sehingga kamu harus mempertimbangkan pengaturan kamera dan exposure ketika kamu menyinarinya.

Mari Kita Lihat Beberapa Contoh:

Pengaturan yang ada di dalam sistem kamera saya sekarang adalah f/2.01/50 sec dan ISO 160.

Image of a CD
f/2, ISO 160, 1/50 sec

Mari bayangkan saya ingin menaikkan Depth of Field untuk mendapatkan lebih banyak fokus dalam gambar ini. Untuk ini saya akan mengubah aperture dari f/2, turun ke f/2.8 dan kemudian ke f/4. Itu merupakan perubahan dua stop penuh. Dengan menutup aperture saya mengambil separuh cahaya, kemudian separuhnya lagi cahaya, meninggalkan seperempat jumlah cahaya awal yang melewati lensa. (Catatan: seringkali lensa dapat berubah dalam 1/2 stop, 1/3 stop, atau bervariasi secara terus menerus, namun saya akan menggunakan perubahan stop penuh karena perhitungan geometris—apa yang sedang kita lakukan sekarang—cukup sulit dan jauh lebih mudah untuk mengikuti matematika dengan stop penuh).

The same image as above darker but with more in focus
Di sini hanya angka f yang berubah. ISO dan shutter speed tetap sama.

Mari kita ulangi: cahaya telah dipangkas separuhnya dari f/2 ke f/2.8; kemudian pangkas separuh lagi dari f/2.8 ke f/4. Hasilnya adalah 1/4 tingkat kecerahan dari yang saya punya di awal. Untuk memastikan bahwa saya memiliki exposure yang sama tanpa menambahkan lebih banyak cahaya, saya perlu menaikkan ISO.

Di dalam gambar sebelumnya ISO diatur pada 160. Di dalam gambar ini, sisi kiri telah diatur ke ISO 320 yang akan membuat kita separuh jalan menuju ke sana, dan di sisi kanan telah digandakan lagi menjadi ISO 640, yang akan menjadi exposure yang sama dengan yang saya miliki sebelumnya. Sekarang lebih banyak gambar berada di dalam fokus, karena lensa kamera dilakukan stop down, yang menaikkan Depth of Field.

Change in ISO from 320 to 640
Shutter speed dan angka f tetap sama (f/4), namun ISO berubah. Kiri: ISO 320, Kanan: ISO 640

Jadi mari kita melanjutkan lebih jauh lagi dengan mencoba aperture untuk mendapatkan sedikit lebih banyak Depth of Field. Mari kita bawa aperture dari f/4, turun hingga f/8. Itu perubahan dua stop penuh lainnya. Untuk mendapatkan exposure kembali ke posisi sebelumnya, saya menaikkan ISO lagi sebanyak dua stop penuh, dengan menggandakan itu menjadi ISO 1250, dan kemudian menggandakannya lagi ke ISO 2500. Walaupun kipas jauh lebih banyak tampak fokus, ada lebih banyak juga noise di dalam gambar.

Shutter speed tetap sama seperti gambar original, sementara angka f berubah ke f/8 dan ISO berubah ke ISO 2500.

Mari kita reset exposure ke f/2, 1/50 sec dan ISO 160.

Back to the original settings
f/2, ISO 160, 1/50 sec., pengaturan asli kami.

Apa yang ingin saya lakukan sekarang adalah menaikkan shutter speed (yaitu waktu exposure) untuk mengurangi beberapa blur gerakan di dalam kipas. Saya akan mengurangi waktu exposure dari 1/50 detik menjadi 1/200 detik. Itu secara efektif mengurangi exposure menjadi 1/4 kecerahan.

A faster shutter speed
Pada waktu exposure 1/200 ada sedikit blur pada gerakan, namun gambarnya terlalu gelap.

Untuk mengimbanginya, saya perlu menaikkan ISO lagi. Saya mengubah dari ISO 160, menjadi ISO 320, dan kemudian ke ISO 640, (itu dua stop penuh) karena kita kehilangan dua stop penuh cahaya dengan menaikkan shutter speed kita.

Aperture berada pada f/2, namun shutter speed diubah ke 1/200, dan ISO diubah ke ISO 640.

Perlu blur gerakan yang lebih sedikit lagi? Di sini, saya mengurangi waktu exposure (shutter speed) dari 1/200 menjadi 1/800 detik. Itu pada efektifnya adalah dua stop pengurangan exposure. Jadi sekali lagi, saya perlu menaikkan ISO dua stop lagi dari ISO 640 ke ISO 1250, dan kemudian dari ISO 1250 ke ISO 2500.

Dapatkah kamu melihat sirip kipasnya lebih jelas sekarang? waktu exposure 1/800 akan melakukan itu.

Hubungan Antara Aperture, Shutter Speed dan Sensitifitas Kamera

Mari reset gambar sekali lagi ke f/2.0, 1/50 detik, dan ISO 160.

f/2, ISO 160, 1/50 sec

Untuk contoh terakhir ini, saya akan mencampurkan penyesuaian pada exposure dengan mengubah shutter speed dari 1/50 ke 1/100 dan dari f/2 ke f/4. Perubahan di dalam aperture dari f/2 ke f/2.8 ke f/4 merupakan pengurangan cahaya dua stop. Perubahan exposure dari 1/50 ke 1/100 adalah pengurangan satu stop. Dengan demikian, untuk mengimbanginya, saya perlu menaikkan ISO sebanyak tiga stop. Titik awal saya adalah ISO 160 sehingga sebuah kenaikan tiga stop akan berupa ISO 1250.

Exposure adalah tentang menyeimbangkan aperture, shutter speed (waktu exposure), dan ISO.

Jika kamu membuat perubahan pada aperture dan kamu tidak ingin mengimbangi dengan shutter speed, dan/atau ISO, kamu harus membuat perubahan pada jumlah cahaya di dalam pemandangan untuk mempertahankan exposure yang sama. Sebagai contoh, jika kamu mengubah aperture dari f/2 ke f/4, kamu harus menaikkan cahaya sebesar dua stop. Itu berarti menggandakan intensitas cahaya dan kemudian menggandakannya lagi! Sangat mudah untuk dilakukan dengan sebuah flash atau strobe (fotografer merasakannya mudah), tidak selalu mudah dengan sumber cahaya yang konstan.

Dengan memahami hubungan ini dan cara kerja kameramu merupakan hal kritis untuk mendapatkan exposure yang pantas. Beberapa darimu mungkin berpikir, "Sistem kamera yang baru ini memiliki sensitifitas ISO yang luar biasa dengan pengurangan noise". Nah ya, ini benar. Dan tentu saja itu merupakan penyelamat ketika kamu tidak dapat menyinari atau kamu tidak memiliki waktu untuk menerangi sesuatu. Namun secara umum, noise bukan hal yang bagus. Semakin sedikit noise yang kamu miliki semakin banyak detail yang kamu punya dalam gambar.

Sekarang Silahkan Atur Kameramu dan Bereksperimen!

Untuk membuat konsepnya melekat, atur sebuah percobaan serupa di rumah. Temukan sebuah kipas, atau sesuatu yang bergerak secara cepat (dengan kecepatan konsisten) dan jalankan melalui jenis permasalahan ini. Sesuaikan aperture dan kemudian imbangi dengan aperture (jika kamu bisa) dan ISO. Ini akan membantumu menguasai konsep exposure dan pencahayaan!

Selamat memotret!

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.