Unlimited AE and Premiere Pro templates, videos & more! Unlimited asset downloads! From $16.50/m
Advertisement
  1. Photo & Video
  2. Night Photography
Photography

Kamera Film vs. Digital Untuk Fotografi Malam

by
Difficulty:BeginnerLength:MediumLanguages:
This post is part of a series called Night Photography.
Working With Light At Night
Manual Versus Autofocus Lenses for Night Photography

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Diana Mufi Pratiwi (you can also view the original English article)

Fotografer secara tradisional bergantung pada film untuk akuisisi gambar, namun semua itu telah berubah dengan datangnya teknologi pencitraan digital. Jadi apakah film tetap memiliki tempat bagi fotografer modern di dalam dunia baru alam biner dan batas digital? Di dalam tutorial ini kita akan melihat pro dan kontra kamera digital dan film untuk fotografer malam.

Pencitraan Analog

Ketika saya pertama kali memulai karir sebagai kameramen, film hanya merupakan satu-satunya pilihan. Film di masa ini telah tergantikan dengan teknologi digital, namun tetap ada situasi dimana itu menawarkan keuntungan tertentu bagi fotografer malam.

Pada dasarnya ada dua jenis film: film pembalik warna (sering disebut negatif) dan film slide. Jenis terakhir umumnya menawarkan kualitas gambar yang tinggi, dan kamu bisa memilih baik warna atau hitam putih.

Ada banyak pilihan emulsi film yang berbeda, mulai dari kecepatan ISO 25 hingga ISO 6400. Nilai ISO mengacu pada sensitifitas film, dimana nilai lebih rendah setara dengan kecepatan yang lebih rendah yang memerlukan lebih banyak cahaya.

Image taken with Fujichrome Velvia film emulsion
Fujichrome Velvia, digunakan dalam foto ini adalah emulsi film favorit bagi fotografer lansekap. Warna tersaturasi dan  butir halusnya melegenda.

Film dengan ISO 100 memerlukan dua kali cahaya dibandingkan film ISO 200. Untuk mendapatkan exposure yang sama kamu harus menggandakan kecepatan shutter atau membuka lensa satu f-stop penuh. Manfaat menggunakan film dengan kecepatan shutter yang lebih rendah adalah mereka memiliki struktur butir yang lebih halus, setara dengan peningkatan resolusi.

Seiring teknologi digital yang terus melaju tanpa henti, film telah tertinggal di belakang, dan ada lebih sedikit stok film yang tersedia saat ini dibanding waktu peralihan abad. Film slide Kodachrome tua merupakan contoh kasus ini—itu ditarik dari penjualan beberapa tahun yang lalu, dan perusahaan induknya Kodak dinyatakan bangkrut.

Jadi  apa keunggulan film dibandingkan digital?

Salah satu pertimbangan dengan perangkat digital adalah bahwa mereka memerlukan listrik untuk berfungsi. Teknologi kamera yang baru ini didorong oleh sensor gambar yang menguras daya dan sirkut terintegrasi, dan tanpa daya mereka tidak bisa mengambil gambar.

Dengan kamera film mekanis tua, kamu tidak memerlukan batre atau sumber daya AC untuk membuat kamera berfungsi. Satu-satunya kebutuhan batere pada kamera ini adalah untuk exposure meter, dan bahkan jika itu menjadi datar kamu tetap dapat mengoperasikan shutter dan mengambil sebuah foto.

Dengan menggunakan kamera film dengan cable release, kamu bisa mengatur waktu exposure dengan durasi beberapa jam. Ini sangat berguna jika kamu ingin memotret jejak bintang, atau mengambil foto dimana cahaya yang tersedia hanya sedikit dan memerlukan kecepatan shutter ultra panjang.

Night skies over Lake Eyre
Foto langit malam di atas pedalaman terpencil Lake Eyre di Australia Selatan merupakan contoh exposure panjang dengan durasi beberapa jam, dan diambil dengan kamera film. Warna hijau disebabkan efek kegagalan timbal balik—filter koreksi warna magenta akan membantu menyelesaikan masalah ini.

Manfaat lainnya menggunakan film adalah bahwa kamu tidak harus khawatir tentang persyaratan penyimpanan file digital. Sekali lagi, ini bisa menjadi penting jika kamu berada di lokasi terpencil dimana kamu tidak memiliki akses ke daya utama.

Jika kartu penyimpanan kamera mulai penuh, kamu perlu mengarsip file tersebut ke perangkat seperti hard drive, komputer, atau tabel, dan itu akan memerlukan daya AC atau batre DC untuk beroperasi. Namun, kartu penyimpanan telah menjadi lebih murah dan kapasitasnya lebih besar, jadi membawa kartu ekstra merupakan pilihan yang layak.

Film juga memiliki beberapa kelemahan, terutama harga. Memotret dengan film itu mahal: tidak hanya kamu memiliki pengeluaran untuk membeli film, namun juga harus membayar biaya pemrosesan untuk pengembangan film setelahnya.

Jika kamu ingin agar gambarmu tersedia di web atau tampilan komputer, kamu juga perlu "mendigitalkan" film untuk memindahkan itu dari analog ke alam digital, dan ini merupakan pengeluaran lainnya yang perlu kamu cantumkan.

Ada juga kurva pembelajaran yang lebih panjang ketika memotret dengan film, karena kamu tidak memiliki umpan balik langsung seperti pada kamera digital. Kamu tidak akan mengetahui hasil pada film hingga kamu memprosesnya, dan kamu tidak dapat mengulas pekerjaanmu saat memotret seperti pada digital.

Kamu mungkin juga mengalami masalah khas pada film yang disebut kegagalan timbal balik. Karena kebanyakan film didesain untuk kecepatan shutter antara satu detik dan satu per 10.000 detik, maka nilai kecepatan shutter di luar parameter ini akan memerlukan kompensasi exposure atau koreksi warna untuk menghilangkan efek timbal balik.

Untuk masalah kompensasi exposure, kamu mungkin perlu menggandakan lamanya shutter terbuka, atau membuka aperture lensa sebesar satu stop untuk mendapatkan exposure yang benar. Film mungkin juga menampilkan perubahan warna dikarenakan timbal balik, dan ini akan memerlukan filter koreksi warna pada lensa untuk mengembalikan akurasi keseimbangan warna.

Akuisisi Digital

Sekarang setelah kita membahas film, waktunya untuk bergerak ke dalam abad 21 dan membicarakan tentang kamera digital. Teknologi terbaru ini menawakan begitu banyak keuntungan dimana akuisisi digital hampir sepenuhnya menggantikan film sebagai medium pilihan untuk fotografer masa kini.

Ketika kamera digital pertama kali hadir pada layar mereka cukup primitif dalam kemampuannya. Resolusi hanya beberapa megapiksel, dimana teknologi sensor dan pemrosesan sinyal digital masih belum matang.

Kualitas gambar rendah, dan ada beberapa kelemahan seperti kemampuan yang jelek pada cahaya rendah dan kurangnya rentang dinamis, khususnya ketika dibandingkan pada gambar film format medium atau besar.

Kamera digital pertama yang saya miliki adalah Nikon D50 dengan sensor gambar CCD 6 megapiksel. Saya membeli kamera ini hanya untuk bereksperimen dengan teknologi baru ini, namun itu segera menjadi jelas bagi saya bahwa akuisisi gambar digital merupakan pengubah permainan.

Kemampuan untuk mengulas foto secara instan untuk memeriksa fokus, exposure, komposisi dan keseimbangan warna membuat pekerjaan fotografer menjadi jauh lebih mudah. Itu membantu mempercepat kurva pembelajaran, membawa pada sedikit penebakan dan lebih sedikt kesalahan.

Teknologi baru ini juga membuka kemampuan kreatifitas yang tidak mungin sebelumnya atau jauh lebih sulit dengan kamera film. Kemampuan untuk memotret time lapse, membuat komposisi exposure yang beragam, dan menggunakan pencitraan rentang dinamis yang tinggi membuat kamera digital menjadi proposisi yang sangat menarik.

Example of high dynamic range processing
Digital memungkinkan kamu menggunakan teknik pemrosesan gambar lanjutan untuk meningkatkan kontras dan warna, menambahkan kesan pada foto seperti pemrosesan rentang dinamis tinggi yang saya gunakan dalam gambar ini.

Pada jantung kamera digital adalah sensor gambarnya, dan sensor inilah yang menangkap cahaya yang masuk melalui lensa kamera. Sensor digital hadir dalam berbagai jenis, termasuk CCD, CMOS, dan NMOS. Resolusi beragam dari sensor dengan beberapa megapiksel hingga gigapiksel ditemukan di dalam perangkat pencitraan ilmiah seperti teleskop.

Resolusi sensor gambar tergantung pada angka piksel yang ada, namun seiring meningkatnya angka piksel, faktor kualitas lainnya seperti kemampuan sensor pada cahaya rendah menjadi dikorbankan.

Cara pembuat kamera menghilangkan efek ini adalah mempertahankan angka piksel yang sama namun meningkatkan ukuran fisik sensor, oleh karenanya meningkatkan kemampuan mengumpulkan cahaya.

Ketika memilih sebuah kamera digital untuk fotografi malam, penting untuk mempertimbangkan kualitas sensor gambar, dimana kondisi cahaya rendah merupakan hal yang umum. Oleh karenanya merupakan ide yang bagus untuk mempertimbangkan sensor gambar berukuran lebih besar, seperti yang ditemukan dalam kamera full-frame.

Sebuah sensor full frame setara dengan frame film 35 milimeter, dan akan memberikan kamu kemampuan cahaya rendah yang luar biasa. Namun, kamera full frame bisa menjadi sangat mahal dan tidak menurunkan kualitas optik lensa, sehingga investasimu umumnya akan lebih tinggi baik untuk badan kamera dan lensa yang ingin kamu gunakan.

Image taken with a full frame camera
Sebuah kamera full frame merupakan pilihan terbaik untuk gambar cahaya rendah, dan pemanfaatan rentang dinamis tinggi dan rendahnya noise pada sensor merupakan keuntungan dari jenis kamera ini.

Jika anggaranmu tidak memungkinkan untuk membeli sebuah kamera dengan sensor full frame, maka saya akan merekomendasikan kamu melihat kamera dengan sensor gambar APS-C atau Micro Four Thirds, karena bahkan kamera ini lebih dari cukup untuk membuat gambar dengan resolusi sangat tinggi, kinerja yang bagus pada cahaya rendah, dan rentang dinamis yang sangat baik.

Generasi kamera sebelumnya memiliki batasan tertentu ketika digunakan dalam kondisi cahaya rendah, seperti tingkat noise digital yang tinggi, namun kamera digital modern telah memecahkan permasalahan ini. Kinerjanya sekarang jauh lebih baik bahkan dibandingkan kamera dari beberapa tahun yang lalu.

Di masa kini kita sangat dimanjakan dengan pilihan, dan model entry level yang murah memiliki kualitas gambar yang bersaing atau melampaui generasi kamera profesional sebelumnya yang sangat mahal. Yang kamu perlukan adalah bakat dan pengetahuan untuk mengeksploitasi kemampuan mereka.

Saat ini saya jarang memotret dengan film, namun saya senang memiliki pengalaman dalam jenis fotografi ini, karena saya belajar untuk tidak membuang-buang exposure dikarenakan biaya, dan saya percaya itu membantu saya mempertajam keahlian saya.

Composite image using both film and digital
Yang terbaik dari kedua dunia. Digital digunakan untuk memotret pemandangan kota Hong Kong, dan exposure jejak bintang dipotret dengan menggunakan film, dengan dua exposure yang digabungkan di dalam software untuk membuat gambar komposit ini. Gambar pemandangan kota—Kamera: Nikon D200; Lensa: Nikkor 10.5 mm f2.8 ED Fisheye; Exposure: ISO 100 - f11.0 - 15 Detik. Gambar Langit—Kamera: Nikon FM2; Lensa: Nikkor 50 mm f1.4; Film: Fujichrome Velvia; Exposure: ISO 50 - f5.6 - 1 Jam

Di bagian seri berikutnya, saya akan membahas peralatan untuk fotografi malam dan apa yang saya pikirkan adalah investasi terpenting di dalam sistem kameramu: lensa.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.